SEJARAH TELEVISI DAN INOVASI TELEVISI
Sebelum saya lebih jauh lagi menulis perkembangan dunia televisi, maka alangkah baiknya jika blog ini juga saya isi dengan tulisan tentang sejarah penemuan dan inovasi televisi di dunia. Saya menyusun bahan ini dari berbagai sumber, termasuk Wikipedia.
Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.
Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun perusahaan. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun.
Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, yaitu hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.
1876 – George Carey menciptakan Selenium Camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai Sinar Katoda.
1884 – Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut Teleskop Elektrik dengan resolusi 18 garis.
1888 – Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.
1897 – Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan oleh ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi cikal bakal televisi layar tabung.
1900 – Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.
1907 – Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.
1927 – Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi.
1923 – Vladimir Kozma Zworykin, mendaftarkan paten atas namanya untuk penemuannya, kinescope, televisi tabung pertama di dunia. Setahun kemudian, dia mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat dan menyelesaikan studi doktornya di Universitas Pittsburgh. Vladimir lahir di Rusia, 30 Juli 1889. Dia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT. Dia bekerja di perusahaan elektronik RCA dan selama 1930 hingga 1940-an, perusahaan itu memanjakannya dengan menguras dana US$ 150 juta untuk produksi teknologi televisi. Keterbukaan Zworykin pada kritik, membuatnya menemukan penemuan baru lagi. Sebuah kamera tabung. Ini melengkapi teknologi televisi tabung penemuannya. Penemuan itu dinamakannya iconoscope, berasal dari bahasa Yunani, icon yang berarti citra dan scope yang berarti mengamati. Ia meninggal karena usia tua pada 29 Juli 1982. Dialah yang kemudian sebagai Sang Penemu Televisi. (1889-1982).
1939 – tepatnya tanggal 11 Mei, untuk pertama kalinya, sebuah pemancar televisi dioperasikan di kota Berlin, Jerman. Dengan demikian, dunia mulai berkenalan dengan alat komunikasi secara visual. Stasiun televisi itu kemudian diberi nama Nipko, sebagai penghargaan terhadap Powel Nipkov, ilmuwan terkenal Jerman dan salah seorang penemu peralatan televisi.
1940 – Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.
1956 – Robert Adler kelahiran Amerika Serikat bersama rekannya Eugene Polley, menemukan remote control televisi. Walaupun bukan televisinya, tetapi penemuannya menjadi sangat penting bagi teknologi televisi. Dia meninggal dalam usia 93 tahun. Penerima penghargaan Emmy tahun 1997 karena penemuannya itu mendapatkan lebih dari 180 paten Amerika selama karir 58 tahunnya. Menurut istrinya, pengendali jarak jauh televisi itu bukanlah penemuan favoritnya dan dia jarang menonton televisi.
1958 – Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan layar televisi dikemukakan oleh Dr. Glenn Brown.
1964 – Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.
1967 – James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.
1968 – Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.
1975 – Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.
1979 – Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.
1981 – Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.
1987 – Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
1995 – Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.
2000-an, masing-masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.
2008 dan seterusnya, menyusul perkembangan televisi digital di negara-negara Amerika dan Eropa, Indonesia juga akan menerapkan sistem penyiaran Televisi digital (Digital Television/DTV) adalah jenis TV yang menggunakan Modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi.
Latar belakang pengembangan televisi digital:
-Perubahan lingkungan eksternal
-Pasar TV analog yang sudah jenuh
-Komplain adanya noise, ghost dll
-Kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel (Cable Television)
Perkembangan teknologi :
-Teknologi pemrosesan sinyal digital (Digital Signal Processor)
-Teknologi transmisi digital
-Teknologi semikonduktor
-Teknologi peralatan display yang beresolusi tingggi
Keunggulan televisi digital :
-High Definition. 5~6 kali lebih halus dibanding televisi analog
-Finest sound. Kemampuan mereproduksi suara seperti sumber aslinya
-Multifunction. Memberi kemampuan untuk merekam dan mengedit siaran
-Multichannel (satu saluran dapat diisi lebih dari 5 program yang berbeda.
Dampak Media Televisi terhadap Masyarakat
Pernah ditulis dalam rubric opini koran kompas tentang budaya membaca, dimana dalam rubric tersebut penulis mengatakan di Amerika sekarang ini terjadi pergeseran dari budaya membaya menjadi budaya lisan. Orang lebih suka menonton acara TV dari pada membaca. Ini belum termasuk pengaruh dari internet. Tetapi setidaknya di Amerika pernah mengalami masa budaya membaca, dimana minat untuk membaca masyarakat disana sangat tinggi. Bagaimana dengan Indonesia?
Belum lagi memasuki budaya membaca, Indonesia sudah dipaksa atau mungkin dengan sukarela beralih ke budaya lisan dan budaya visual. Hal ini dapat dilihat dari dominasi televisi di Indonesia dan rendahnya minat membaca masyarakat. Saat ini kebanyakan masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu luang mereka untuk menonton acara televisi. Berbagai alasan mereka utarakan, ya untuk hiburan, daripada tidak ada kerjaan, dll. Hal ini menurut saya sangat mengkuatirkan. Bagaimana tidak, acara yang ditawarkan stasiun-stasiun di negara kita hampir tidak ada yang berkualitas. Acara berita dipenuhi dengan berita-berita kriminalitas. Acara hiburan didominasi oleh sinetron-sinetron yang sama sekali tidak berbobot. Belum ditambah lagi dengan acara infotaintment dan setumpuk acara-acara sampah lainnya. Dan itu ditawarkan oleh hampir semua stasiun televisi yang ada. Setiap hari masyarakat dicekokin dengan dengan sampah, dihibur dengan sampah. Acara iptek, pendidikan, dan acara lain yang memberikan informasi yang bermanfaat sangatlah minim atau bahkan tidak ada. Acara-acara yang cukup berkualitas rata-rata merupakan relay dari acara stasiun televisi di luar negeri, seperti CNN, National Geographic, dll.
Bagaimana jika hal ini terus berlanjut? Kita lihat dampak media terhadap anak-anak yang merupakan generasi bangsa. Anak-anak sekarang ini mulai berkiblat pada kehidupan artis. Anak-anak sudah tidak lagi menonton acara anak-anak, tetapi sinetron, infotainment, berita kriminalitas, dll. Anak-anak tidak lagi mengenal lagu anak-anak. Dampak nyata yang terlihat dan sangat memprihatinkan adalah meningkatnya tingkat bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak. Darimana mereka mendapat ide dan informasi tentang bunuh diri? Dari sekolah? Dari lingkungan sekitar? Atau dari media? Atau darimana? Menurut saya media-lah yang menjadi sumber informasi dominan. “Bunuh diri merupakan puncak dari frustrasi. Pelaku merasa tidak ada solusi terhadap masalahnya, tidak ada harapan. Dalam kondisi tersebut hiburan yang didapat hanyalah berita-berita kriminalitas, maka terjadilah bunuh diri. Hal ini bukan semata kesalahan media, tapi satu hal yang pasti media memberikan andil yang sangat besar.
Itu baru salah satu dampak negatif dari media televisi di negara kita padahal masih banyak dampak lainnya spt:
- menurunnya atau hilangnya minat membaca masyarakat.
- menurunnya atau hilangnya rasa malu
banyaknya berita tentang korupsi dan penipuan, maupun tindakan criminal lainnya yang banyak dilakukan oleh pejabat membuat terjadinya degradasi rasa malu pada masyarakat, baik secara sadar mau tidak sadar. Masyarakat akan berpikir, “wong yang sudah kaya dan punya jabatan saja masih begitu kenapa saya yang hidupnya susah gak boleh begitu”. Seolah-olah korupsi itu bukan lagi hal memalukan. Contoh lainnya adalah Roy Suryo. Anda tentu mengenal Roy Suryo yang katanya pakar telematika. Atas dasar apa media mengatakan dia itu pakar telematika? Padahal sebenarnya dia hanya seorang yang tidak kompeten dan gak tau malu yang mencari popularitas. Tetapi apa yang dilakukan media? Media memblooming berita tentang dia. Media gak mau tau bahwa hal ini bisa berdampak buruk terhadap masyarakat, memberikan contoh figure yang gak tau malu.
- meningkatnya kriminalitas
- meningkatnya percerain
masyarakat disuguhi dengan tayangan infotainment terus-menerus. Kehidupan artis jadi santapan setiap hari. Berita kawin cerai artis jadi makanan sehari-hari. Hal ini secara perlahan tapi pasti akan mempengaruhi kehidupan masyarakat pada umumnya. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya perceraian di masyarakat. Masyarakat tidak lagi memiliki beban moral untuk bercerai.
- menciptakan masyarakat yang konsumtif
- menciptakan masyarakat pemalas
karena setiap hari dihadapkan dengan iklan-iklan yang menggoda, ditambah lagi efek dari sinetron-sinetron yang hanya menceritakan kehidupan orang-orang kaya membuat masyarakat menjadi konsumtif.
- dan masih banyak lagi
Apakah ada dampak positifnya? Tentu aja ada, seperti mudah mendapatkan informasi, hiburan, dll. Tetapi permasalahannya adalah dampak positif yang diberikat tidak sebanding dengan dampak negatifnya.
Mengapa demikian?
Karena media di Indonesia menyuguhkan acara-acara yang tidak berkualitas. Media hanya mengejar keuntungan perusahaan semata. Tanggung jawab moral terhadap pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Kontrol dari pemerintah masih sangat kurang. Undang-undang yang gak jelas. Masyarakat juga terlalu mudah dimakan media. Minat belajar masyarakat juga masih rendah.
Bagaimana media itu semestinya?
Media semestinya mampu memberikan hiburan, informasi yang berkualitas dan bermanfaat. Media diharapkan dapat turut andil dalam peningkatan kualitas SDM di Indonesia. Media diharapkan dapat mengubah culture masyarakat menjadi lebih baik.
Sabda Hidup (Januari-Maret 2005)
Pengaruh Televisi & Film
(The Influence of Television And Movie)
Televisi saat ini adalah sarana elektronik yang paling digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesusah zaman dahulu dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan usia. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan, sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun orang dewasa. Kita harus berhati-hati sebab televisi selain bisa menjadi teman yang baik bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan.
Dalam sebuah survei yang dilakukan lebih dari setengah anak-anak di AS mempunyai televisi di kamar mereka. Usia remaja paling banyak menonton televisi di kamar dan hampir sepertiga anak-anak pra sekolah mempunyai televisi di kamar mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi. Disebutkan juga adanya beberapa orang siswi sebuah sekolah yang bergantian bolos dari sekolah demi menonton sebuah tayangan opera sabun di televisi. Di Indonesia mungkin tidak sampai menjangkau persentase sebesar ini namun pengaruh televisi juga telah banyak membentuk pola pikir dari anak-anak Indonesia pada umumnya dan gereja pada khusunya. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya kehidupan setan seperti kekerasan yang membuat bulu kuduk merinding, vulgaritas, kejahatan, kebencian, seks bebas, penipuan, tatanan rambut yang radikal, dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal. Dalam hal ini televisi telah menjadi propaganda terpenting yang dipakai setan saat ini terhadap manusia termasuk orang Kristen baik dewasa maupun anak-anak. Tidak bisa disangkal bahwa dewasa ini televisi adalah salah satu guru elektronik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Apa yang harus dilakukan keluarga Kristen untuk mengatasi berbagai problema yang diakibatkan oleh tontonan televisi?
I. Sisi Positif Yang Bisa Diberikan Televisi bagi kita
Televisi hadir sebagai sarana untuk memperlancar hubungan dan komunikasi antar manusia. Banyak perubahan dan kemajuan yang terjadi pada masyarakat abad kedua puluh dengan datangnya media masa televisi.
Televisi menghibur kita.
Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat serta pengetahuan kepada pemirsanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan. Raja Salomo menyadari betapa pentingnya warna dalam hidup ketika dia berkata, “ Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa-pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir…, ada waktu untuk tertawa,… ada waktu untuk menari,… (Pengkhotbah 3:1-8). Salomo tidak hanya membicarakan spiritualitas tetapi juga hiburan. Hiburan merupakan salah satu bagian dari hidup orang-orang dalam Perjanjian Lama. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir mereka menari-nari, saat raja Saul merasa bersedih dan hatinya galau dia dihibur oleh Daud, ketika Tabut Perjanjian kembali ke tangan bangsa Israel, raja Daud menari-nari. Hidup akan berwarna bila ada hiburan. Televisi sebagai salah satu sarana hiburan sangat dibutuhkan semua orang. Hiburan-hiburan yang sehat yang ditayangkan di televisi seperti musik, film, infotainment dan lain-lain sangat bermanfaat unutk mencairkan kejenuhan setelah sehari bekerja keras. Hal itu membuat pikiran kita kembali segar dan melupakan sejenak kelelahan sepanjang hari. Dahulu pada saat kita hanya memiliki stasiun TVRI (Televisi Republik Indonesia) orang-orang sangat kehausan hiburan dan terasa sekali betapa berharganya setiap acara hiburan yang ditayangkan. Contohnya drama seri Kisah Serumpun Bambu, Film Cerita Akhir Pekan, film dokumenter seperti Dian Rana, Flora dan Fauna, musik hiburan seperti Aneka Ria Safari, dan lain-lain adalah tayangan hiburan sehat yang jam tayangnya sangat ditunggu-tunggu.
Televisi Memberi Informasi, Pengetahuan & Pendidikan.
Televisi bisa mengerutkan dunia dan melaksanakan penyebaran berita dan gagasan lebih cepat. Dengan adanya media televisi dunia kelihatan semakin kecil dari sebelumnya. Kita bisa memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di dunia. Berita-berita aktual bisa langsung disebarkan ke berbagai pelosok dunia secara langsung. Gempa bumi, penyakit menular, kriminalitas, peristiwa olah-raga terkini yang terjadi di belahan bumi bisa disaksikan bersama-sama oleh berjuta-juta orang. Media televisi telah bisa menyatukan hati semua orang melalui informasi yang diberikan. Dengan menonton tayangan televisi akan bisa menambah wawasan kita. Orang Kristen membutuhkan informasi. Demi kelancaran pemberitaan Injil maka kita perlu memiliki pengetahuan akan dunia dan sekitar kita yang tidak hanya kita lihat melalui buku tetapi dengan melihat dan mendengar dari televisi. Televisi menambah pengetahuan kita. Industri pertelevisian di negara kita khususnya sebenarnya banyak menayangkan informasi-informasi yang akurat tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ada berita baik yaitu saat ini gereja bisa memakai sarana televisi untuk memberitakan Injil. Di negara besar seperti Amerika Serikat menginjili melalui televisi adalah merupakan hal yang lazim. Sehingga berjuta-juta orang bisa melihat dan mendengar Injil di televisi dan begitu banyak jiwa telah mentaati Injil melalui kontribusi penyiaran televisi.
II. Sisi Negatif Yang Bisa Diberikan Televisi Bagi Kita
Pengaruh yang tercipta oleh media televisi bisa mempercepat kehancuran nilai-nilai agama dan moral tradisional dari pemirsanya.
Televisi Bisa Melukai dan Merusak Peradaban Kita.
Komunikasi tanpa batas telah banyak mengakibatkan pergeseran moral. Banyak tayangan televisi saat ini yang sudah kehilangan fungsi. Yang seharusnya memberikan hiburan untuk membangun ahklak malah melukai pemirsa baik-anak-anak maupun dewasa. Yang seharusnya televisi itu dibuat dan dirancang sebagai pendukung moral namun pada kenyataannya tidak demikian yang terjadi. Televisi menjadi pusat komersial nomor satu. Acara-acara dikemas untuk bisa dijual ke publik . Kemasan acara-acara penjadi persoalan selera bagi beberapa produser atau pihak stasiun televisi. Bagi mereka yang penting adalah rating acara tetap tinggi sehingga membuat acara semenarik mungkin untuk menggoda emosi dan selera pemirsa. Banyak acara-acara yang berkualitas namun karena tidak memiliki nilai jual yang tinggi, pihak stasiun televisi enggan untuk membeli. Hal ini sangat disayangkan. Program acara yang ditayangkan banyak yang melukai moral, martabat dan juga fisik manusia. Banyak acara televisi yang sama sekali tidak menghargai kehidupan bermasyarakat dan beragama. Banyak yang tidak lagi mengejar impian dan nilai-nilai moral tetapi sebaliknya menyerap nilai-nilai yang menyimpang dari masyarakat yang sakit. Mengajarkan orang bagaimana berbuat licik, jahat, membunuh, seni berbohong. Tayangan-tayangan yang berbau kekerasan, seksual, banyak mempengaruhi jalan pikiran pemirsa yang akibatnya adalah mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang normal untuk dilakukan. Sangat disayangkan sepertinya tidak ada lembaga sensor untuk sinetron tentang tindakan yang terlihat begitu vulgar di televisi. Semua tayangan yang berbau kekerasan, setan, hantu, tidak satupun yang mendidik orang untuk lebih baik Hal yang lain yang sangat menyedihkan adalah bahwa banyak tayangan-tayangan film ataupun sinetron dalam televisi yang menggunakan kata-kata makian, hujatan, kebencian, kata-kata yang mengarah pada seks, namun sangat jarang sekali menayangkan resiko dari suatu tanggung jawab akan hal-hal yang terjadi. Adegan-adegan kekerasan, kebencian dan kejahatan, orang tua dan anak bekerja-sama melakukan kejahatan demi uang, anak-anak melawan dan memaki orang tua, murid-murid melawan guru yang akibatnya guru seperti tidak memiliki harga lagi di masyarakat, dan kejahatan moral lainnya juga sangat mudah didapatkan dalam tayangan-tanyangan televisi seperti sinetron, telenovela dan olah raga. Misalnya dalam sinetron Bidadari, Dia, Bawang Putih Bawang Merah, Tersanjung, Smach Down, dan lain-lain. Memang pengaruh negatif dari tayangan-tayangan seperti di atas tidak akan langsung terlihat. Begitu seseorang menonton sebuah adegan pembunuhan sadis dia tidak akan pergi keluar dan melakukan pembunuhan sadis. Tetapi akan terlihat kelak dimana bila semakin banyak seseorang itu menonton acara-acara kekerasan maka akan semakin besar kemungkinan bagi dia untuk berpikir bahwa hal semacam itu normal-normal saja dan boleh untuk dipraktekkan.
Televisi Bisa Menyita Banyak Waktu Berharga Kita.
Berdasarkan survey, kurang 25 % orang tua percaya bahwa anak-anak mereka lebih banyak menonton televisi. Pada akhirnya televisi akan memanjakan pemirsa yang membuat orang lupa untuk beraktivitas, menghancurkan gairah kerja, dan lain-lain. Banyak acara populer yang ditayangkan pada tengah malam atau subuh. Para penggemar acara tersebut akan memilih untuk duduk di depan televisi semalaman dari pada memikirkan pekerjaan esok hari. Akhirnya keadaan ini mengurangi ethos dan kualitas kerja. Satu hal yang sangat menyedihkan bagi kalangan orang Kristen adalah adanya anggota jemaat yang lebih memilih menonton pertandingan siaran langsung tinju atau sepak bola pada hari Minggu siang dari pada mengikuti kebaktian di jemaat lokal.
Televisi Bisa Membohongi dan Sekaligus Membuat Kita Lupa Diri.
Cerita-cerita yang tidak masuk akal, diluar logika, iklan-iklan yang sangat menggiurkan banyak mempengaruhi penonton. Kehidupan fantasi yang mengeksploitasi seks, kekayaan, dewi penolong. Sinetron ataupun film di televisi banyak menyajikan model tindakan dan konsekuensi yang sepenuhnya tidak realistis. Pahlawan-pahlawan film bisa mengatasi masalah yang paling sulit dalam hitungan detik. Model seperti ini bisa mempunyai pengaruh atas cara pendekatan anak-anak kepada masalah. Namun yang lebih membahayakan lagi adalah dampak konsumsi sehari-hari dari tokoh idola dalam cerita dan acara yang hanya memperlihatkan sedikit perbedaan antara benar dan salah. Anak-anak sangat mudah terpengaruh dan mengadopsi kehidupan sang tokoh film dalam kehidupannya dan menginginkan diri seperti tokoh tersebut. Ada anak kecil yang membunuh adiknya. Setelah di lakukan investigasi, ditemukan bahwa penyebabnya adalah mereka bermain “supermen-supermenan” di kamar. Dia mengikat leher adiknya dengan kain sarung dan mendorongnya dari atas ranjang yang agak tinggi dengan keyakinan sang adik akan bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut seperti yang dilakukan superman. Si adik tidak bisa dan akhirnya nyawanyapun melayang. Hal ini terjadi adalah karena pengaruh dari tontonan televisi. Lihatlah betapa dahsyat dan mengerikannya pengaruh tayangan sedemikian terhadap generasi-generasi penerus kita. Televisi banyak mempengaruhi pemirsa secara psikologis. Banyak tayangan yang mengajak pemirsanya untuk hidup dalam dunia delusi atau alam khayalan. Menciptakan kecemburuan yang akhirnya memaksa diri untuk melakukan kejahatan demi memenuhi hasrat. Televisi mengajarkan kepuasan sesaat, seperti iklan yang digunakan untuk menarik anak-anak dan remaja dan menarik mereka membeli suatu produk yang menipu. Televisi mengajarkan bahwa kebahagiaan berarti memiliki segala sesuatu.
Televisi Bisa Mempengaruhi Cara Keluarga Berinteraksi.
“Apa acara menarik malam ini?” pertanyaan ini telah menggantikan tempat, “Ayah, apakah ayah bisa membantu saya melakukan pekerjaan rumah ini?” Keluarga yang dahulu biasa berkumpul mengelilingi meja makan untuk bercakap-cakap, sekarang bukannya bertukar berita dan pandangan antara orang tua dengan anak. Tetapi sekarang meja makan telah berpindah ke depan televisi. Anak-anak lebih banyak membuang waktunya duduk di depan televisi dari pada berkomunikasi dengan orang tuanya. Suami dan isteri sampai saling beradu tegang untuk memegang remote kontrol. Seorang ibu yang sedang asyik menonton tayangan sinetron mencubit anaknya yang menangis minta diambilkan susu. Televisi telah banyak membuat kalut komunikasi yang efektif. Anak-anak remaja lebih bisa menghafal lagu dari Britney Spears daripada tugas yang diberikan guru dan orang tua.
III. Apakah Yang Harus Kita Lakukan Untuk Mengatasi Problema Yang Diakibatkan?
Semua kalangan gereja (pemimpin, penginjil, pengajar, orang tua, pemimpin kaum muda, pemimpin anak-anak bertanggung jawab untuk mencari solusi bagaimana agar pengaruh negatif televisi bisa dihindarkan.
Adakan Kebaktian Keluarga.
Menonton televisi bukanlah sesuatu yang terlarang atau dosa. Namun sebagai orang Kristen kita perlu membuat prioritas dalam kegiatan keluarga kita. Kebaktian keluarga seharusnya menjadi pilihan utama. Tekankan masalah-masalah moral dan pengaruh televisi dalam kebaktian tersebut kepada semua anggota keluarga. Menonton televisi bukanlah prioritas. Kalangan anak-anak dan remaja adalah korban yang paling banyak dari pengaruh negatif televisi. Merupakan prospek yang mengerikan membesarkan anak-anak kita di tengah-tengah hiburan yang rusak dan tidak bermoral. Sama relevannya ketika raja Daud berkata dalam Mazmur 11:3, ”Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?” Dengan kata lain bila tata-tertib moral telah berantakan maka orang baik tidak akan berdaya. Sebab itu orang tua harus berhati-hati. Kebaktian keluarga adalah sebuah wadah yang sangat efektif untuk membantu mengatasi hal ini. Anak-anak harus lebih banyak mendapatkan pendidikan rohani daripada tontonan hiburan duniawi. Dalam Perjanjian Lama Musa menasihatkan orang tua di Israel agar selalu berfokus pada kerohanian anak-anak mereka, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7). Mau tidak mau harus disadari bahwa pemuda-pemudi secara umum saat ini hidup di tepi moral dan lebih dekat dengan bencana yang tidak pernah kita harapkan, dan televisi merupakan salah satu penyebab degradasi moral.
Selektif Dalam Memilih Acara Yang Ditonton.
Lebih baik menonton acara-acara yang berkualitas. Tidak semua tayangan di televisi itu buruk tetapi ada beberapa acara yang baik untuk ditonton. Dalam hal ini kita lebih baik melihat acara apa yang direkomendasikan. Contohnya, bila kita ingin menonton film, sangat baik bila kita membaca resensinya dahulu sebelum kita tonton. Kita sebagai keluarga Kristen harus bisa mengatasi bagaimana caranya agar penyakit ini jangan sampai menulari generasi gereja. Dalam hal ini kita harus bisa menjadi guru paling tidak bagi diri sendiri dan anggota keluarga dan jemaat. Prinsip dari nasihat Paulus kepada jemaat di Tesalonika untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik mungkin bisa kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari ketika kita membuat pilihan apa yang harus dan apa yang tidak harus kita lakukan. Tuhan telah memberi kita akal untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jangan izinkan anak- anak Saudara mempunyai televisi di kamar. Televisi membuat anak-anak menutup diri dari keluarga dan keluarga akan sulit untuk memonitor program- program yang ditonton. Jika anak- anak Anda mempunyai televisi di kamar, pertimbangkan untuk memindahkan televisi tersebut atau bersiaplah untuk menghadapi konfllik yang besar dengan mereka. Kita harus menentukan acara televisi yang akan ditonton oleh anak kita setiap minggunya. Pastikan televisi tidak dihidupkan ketika acara ditetapkan untuk ditonton belum mulai. Jangan biarkan televisi hidup hanya untuk melihat iklan atau untuk mendengar suaranya saja. Orang tua juga perlu, mendampingi anak-anak saat menonton sebuah tayangan dan memberi mereka penerangan akan siaran yang ditonton. Kita perlu melihat bagaimana anak-anak menyikapi tontonan tersebut dan memberikan waktu untuk mendiskusikannya bersama. Orang tua juga perlu menetapkan jam untuk menonton.
Kesimpulan:
Salah satu issue yang paling sering menimbulkan konflik antara anak-anak dan orang tua adalah acara nonton televisi. Kapan, berapa sering, dan acara apa yang boleh dan tak boleh ditonton sering menjadi perdebatan yang panas bagi hubungan orang tua dan anak namun walaupun demikian Alkitab Perjanjian Baru memberikan dimana tempat ataupun lingkungan yang sehat untuk mendidik anak-anak. Komunikasi aktif antar keluarga adalah sarana yang paling sederhana dan efektif dalam membangun sebuah keluarga yang Kristiani. Pilihlah acara atau tayangan-tanyangan televisi yang sehat, informatif, membangun dan bernuansa Kristen. “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis bentuk kejahatan” (1 Tessalonika 5:22).
Sumber yang dipakai untuk melengkapi artikel ini:
1. Majalah Gaharu, edisi November2004
2. Right from Wrong, oleh Josh Mc Dowell & BOB Hosttetler
3. Raising Awesome Kids, oleh Sam & Geri Laing.
Televisi untuk Kepentingan Bisnis
SEJAK kehadiran televisi swasta di Indonesia pada tahun 90-an, sulit dipungkiri betapa dahsyatnya pengaruh televisi terhadap pembentukan mental masyarakat serta ikut mempengaruhi bahkan menciptakan persepsi dan sikap pemirsa. Berita-berita Keganasan Israel di Lebanon dan Palestina, yang diberitakan telah menyulut kemarahan orang Indonesia, bahkan dunia karena efek visualisasi dan suara (narasi).
Kita dapat ikut menangis dan berempati, ketika menyaksikan mayat dan reruntuhan bencana gempa dan tsunami ditayangkan. dan masih banyak lagi. Di hampir setiap keluarga Indonesia hampir dipastikan terdapat kotak-kotak kecil itu, yang seolah-olah menjadi “kewajiban” hadirnya. Apa yang disiarkan televisi, seakan di-iya-kan oleh pemirsanya.
Lebih celaka lagi, anak-anak muda dan sebagian besar masyarakat awam yang (maaf) pendidikannya rendah, lebih percaya dan terbius oleh ceritera di sebagian besar sinetron dan infotainment yang juga (maaf) lebih bersifat materialis, hedonis dan pragmatis. Bagaimana hal ini bisa terjadi, dan mengapa? Sebetulnya apa yang dibawa televisi dan bagaimana seharusnya itu disikapi.
Efektivitas Televisi
Tidak berlebihan apabila dikatakan media televisi secara aktif ikut andil di dalam transformasi budaya bangsa. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkanya. Pertama, jika dilacak lebih jauh budaya tradisional bangsa Indonesia, yaitu budaya lesan yang menitikberatkan penyampaian informasi secara langsung, tanpa tulisan akan kita jumpai pula dalam bentuknya yang baru, dikemas lewat layar-layar kecil televisi.
Kehadiran “ibu kedua” ini secara psikologis sangat cepat diterima. Jadilah ia sebagai media audiovisual yang menjadi lebih tajam/efektif masuk ke dalam wacana gagasan pemirsanya.
Kedua, lewat kekuatan yang dimiliki televisi, proses “mencuci otak” dengan cara mengubah pola pikir, merombak sikap mental dan tatanan masyarakat relatif lebih mudah. Menarik apa yang dikatakan Jalaludin Rahmat (1993) bahwa media televisi mempunyai kekuatan tersembunyi untuk menggambarkan apa yang terjadi, apa yang penting dalam berbagai kejadian serta menjelaskan hubungan-hubungan dan makna yang ada di antara kejadian-kejadian itu.
Hal ini karena media audiovisual (televisi) merupakan media abstraksi tingkat pertama dari sebuah realitas sosial. Mengapa? Karena media ini merupakan sajian yang paling mendekati realitas yang sebenarnya dibanding dengan audio lain (radio misalnya) yang menempati tingkat abstraksi selanjutnya.
Apalagi dibanding dengan buku yang dalam hal-hal tertentu banyak menyajikan teori. Walaupun teori merupakan abstraksi dari realitas sosial, akan tetapi tingkat abstraksinya jauh di atas televisi.
Peristiwa baik yang bebar-bernar terjadi maupun realitas yang direkayasa, lewat layar-layar kecil yang berfungsi sebagai jendela dunia, disajikan secara visual disertai dengan narasi atau sarana audio lain terhadap peristiwa yang dipotret. Dengan demikian konsekuensinya, masyarakat awam akan sangat mudah mencerna/menyerap (dipengaruhi) abstraksi tingkat pertama yang disajikan oleh televisi.
“Raja” Media Televisi
Dengan daya hipnotisnya yang nampak dari kekuatan televisi, penetrasi yang hampir tanpa batas, dan efektivitas media audiovisual ini, menjadikan televisi pada posisi yang sangat strategis, konsekuensi logikanya adalah munculnya berbagai kepentingan yang saling berdesakan, baik politik, bisnis, pendidikan, hiburan dll.
Ada satu hal yang menjadi titik temu dari heterogonitas kepentingan, yaitu promosi nilai. Walaupun beragam tayangan yang disajikan untuk mewakili kepentingan yang berbeda, tapi itu cuma “bungkus” sedangkan isinya tetap; Nilai!.
Celakanya, kalau nilai yang dipromosikan adalah materialisme, hedonisme, dan pragmatisme. Sudah bisa ditebak budaya apa yang akan terbangun kelak pada suatu generasi, atau jangan-jangan budaya itu telah merasuki kita sekarang ini !
Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah siapa yang menjadi “raja” yang akan menguasai promosi nilai? Kata Kolakowski, “jika mau melakukan promosi nilai ada tiga faktor yang harus diperhitungkan. Pertama; kekuasaan, kedua; uang, dan ketiga; kata atau bahasa.”
Pada faktor ketiga tentang promosi nilai dari Kolakowski inilah, televisi menduduki perannya. Sedangkan siapa yang menjadi “raja” adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan uang-lah yang punya kesempatan menguasai kata/bahasa, menguasai televisi !.
Perlu Kearifan
Kegiatan komunikasi (televisi) akan selalu mengundang implikasi etis. Bahkan sejak awal proses komunikasi terikat oleh dan bersandar pada nilai-nilai etis tertentu dalam masyarakat (Dedy Djamaludin Malik 1995; seminar Media di UGM).
Nilai-nilai etis tersebut merupakan kristalisasi dari proses interaksi sosiologis sesama manusia dalam konteks dan seiring sosio kultural dan politik tertentu. Dalam kaitan inilah, televisi sebagai salah satu media komunikasi akan terikat dan bersandar pada nilai-nilai etis tertentu.
Kembali pada soal promosi nilai, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah nilai mana yang akan dipromosikan? Nilai budaya Amerika ? Nilai budaya pragmatisme, hedonisme, materialisme ? Atau nilai-nilai asli budaya Bangsa sendiri, Bangsa Indonesia.
Menyadari kekuatan serta pengaruh negatif yang timbul karena kedahsyatan efektivitas televisi, maka sudah sepatutnyalah yang mempunyai kekuasaan dan uang sebagai decision maker menyadari dan menyeleksi terhadap nilai yang akan dipromosikan televisi, yang punya kesempatan lebih untuk ikut andil dalam mengarahkan transformasi budaya, mempunyai kearifan, punya komitmen dan tanggung jawabterhadap bentuk budaya bangsa.
Hal ini penting agar arah transformasi budaya tidak terkilir ke dalam suatu posisi di mana mental (jiwa) masyarakat berada dalam kondisi yang “sakit”. Dengan demikian sudah tiba saatnya (kalau tidak mau disebut terlambat) bagi pemegang kendali, baik pemerintah, owners televisi maupun komunikator (pembuat program-program siaran), mendudukkan fungsi/ peran televisi sebagai agen perubahan social yang nyata, tidak semata-mata sebagai media pendidikan, penerangan, maupun bahkan banyak yang beranggapan sebagai hiburan.
Fungsi ini hendaknya disadari dan dijelaskan oleh “raja” media televisi sehingga tidak menjadi masalah manakala fungsi ini diderivasikan kedalam bentuk-bentuk yang lain. Mengapa? Sebab dengan menerapkan fungsi tersebut, maka antarberbagai derivasi ada semacam link and match untuk mengarahkan transformasi budaya bangsa ke arah titik yang sesuai dengan alam budaya Indonesia.
Beberapa Pemikiran
Dengan mengubah paradigma yang menjadikan fungsi televisi sebagai agen perubahan ( ibarat sebagai kumpulan manusia khusus yang berada di tiap keluarga, yang selalu “berkotbah” tiap hari) maka kita telah memulai reinterpretasi terhadap pemahaman fungsi televisi. Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan aksi (meminjam istilah Kuntowijoyo, 1992).
Aksi tersebut hendaknya dapat memanfaatkan kekuasaan serta efektivitas televisi untuk mendorong proses perubahan sosial dalam konteks transformasi budaya yang mengarah pada suatu tatanan yang mempunyai nilai-nilai humanistik dan nilai-nilai luhur dan bukan (maaf) nilai-nilai “nyinyir” seperti dipertontonkan pada sinetron, dan tayangan infotainment lainya
Dalam konteks pertelevisian inilah, aksi tersebut dapat dilakukan melalui kode etik maupun undang-undang pertelevisian yang akan dijadikan rujukan maupun sandaran bagi stasiun televisi didalam mengemas paket-paket acaranya.
Apa pun bentuk (isi) serta muatan yang akan dielaborasikan ke dalam etika pertelevisian maupun undang-undang, paling tidak ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan. Pertama: amanat, berarti dapat dipercaya karena pesan yang disampaikan adalah benar, jujur, dan tidak dimanipulasi. Prinsip ini penting karena banyak praktik-praktik penyiaran televisi yang mendistorsi realitas, memaksakan ilusi semu kepada pemirsa.
Banyak tayangan (terutama iklan, sinetron, berita-berita selebritis) yang bersifat manipulatif dan tunduk pada kepentingan bisnis. Kedua: memuat etika religius. Ada beberapa siaran-siaran televisi khususnya yang berbau hiburan dan iklan justru “mendakwahkan” kemungkaran dan bahkan (maaf) beberapa tayangan yang dibumbui keagamaan yang kalau kita tidak hati-hati justru terjebak seolah-olah agama hanya untuk mengusir setan, dipakai kalau sedang sedih, duka, terkena musibah. Ini bahaya, karena sangat mendistorsi fungsi agama yang kaafah, yang mengatur segala kehidupan manusia.
Ketiga: memuat etika budaya bangsa. Apabila kita tidak mau kehilangan identitas nasional sebagai bangsa yang beradap. Bangsa yang punya kebudayaan sendiri yang luhur, maka sudah selayaknyalah budaya pribumi lebih mengemuka daripada budaya Amerika ( Barat). Fenomena homogenisasi budaya barat adalah bukti ketidakmampuan “raja” televisi untuk mengarahkan transformasi budaya bangsa kepada tatanan yang lebih sesuai dengan “alam” budaya Indonesia.
Keempat: Dialogis. Dalam mengemas pesan-pesan yang akan disampaikan harus terjadi proses dialogis. Kata Jalaludin Rahmat, “Hubungan komunikasi dengan para pemirsa adalah hubungan Aku-Anda dan bukan hubungan Aku-Obyek”. Proses dialog akan memandang pemirsa sebagai rekan sederajat, saling menghormat, sebaliknya, komunikasi yang satu arah, hanya menganggap pemirsa sebagai “robot”, sebagai objek yang bias dijejali dan diperlukan untuk meng-iya-kan nilai-nilai yang dipromosikan. Jangan salahkan masyarakat kalau mereka bereaksi keras, karena hak-hak, harga diri mereka tidak dihargai. (11)
- Akhmad Samsul Ulum, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan