Serat Optik

Oktober 31, 2008

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } H3 { margin-bottom: 0.08in } TD P { margin-bottom: 0in } H2 { margin-bottom: 0.08in } –>

Sistem Komunikasi Serat Optik

Perkembangan dan penerapan teknologi telekomunikasi dunia yang berkembang dengan cepat, secara langsung ataupun tidak langsung akan mempengaruhi perkembangan sistem telekomunikasi Indonesia. Beroperasinya satelit telekomunikasi Palapa dan kemudian pemakaian SKSO (Sistem Komunikasi Serat Optik) di Indonesia merupakan bukti bahwa Indonesia juga mengikuti dan mempergunakan teknologi ini di bidang telekomunikasi.

Serat optik akan memberikan kemungkinan yang lebih baik bagi jaringan telekomunikasi. Serat optik adalah salah satu media transmisi yang dapat menyalurkan informasi dengan kapasitas besar dengan keandalan yang tinggi. Berlainan dengan media transmisi lainnya, maka pada serat optik gelombang pembawanya tidak merupakan gelombang elektromagnet atau listrik, akan tetapi merupakan sinar/cahaya laser. Kotoran di dalam serat optik dapat mengakibatkan rugi-rugi transmisi dan dispersi yang tidak sempurna.

Sebagaimana namanya maka serat optik dibuat dari gelas silika dengan penampang berbentuk lingkaran atau bentuk-bentuk lainnya. Pembuatan serat optik dilakukan dengan cara menarik bahan gelas kental-cair sehingga dapat diperoleh serabut/serat gelas dengan penampang tertentu. Proses ini dikerjakan dalam keadaan bahan gelas yang panas. Yang terpenting dalam pembuatan serat optik adalah menjaga agar perbandingan relatif antara bermacam lapisan tidak berubah sebagai akibat tarikan. Proses pembungkusan seperti pemberian bahan pelindung atau proses pembuatan satu ikat kabel yang terdiri atas beberapa buah hingga ratusan kabel pengerjaannya tidak berbeda dengan pembuatan kabel biasa.

Keunggulan Transmisi Serat Optik

Sistem transmisi serat optik ini dibandingkan dengan teknologi transmisi yang lain mempunyai beberapa kelebihan, antara lain :

  1. Redaman transmisi yang kecil.Sistem telekomunikasi serat optik mempunyai redaman transmisi per km relatif kecil dibandingkan dengan transmisi lainnya, seperti kabel coaxial ataupun kabel PCM. Ini berarti serat optik sangat sesuai untuk dipergunakan pada telekomunikasi jarak jauh, sebab hanya membutuhkan repeater yang jumlahnya lebih sedikit.
  2. Bidang frekuensi yang lebarSecara teoritis serat optik dapat dipergunakan dengan kecepatan yang tinggi, hingga mencapai beberapa Gigabit/detik. Dengan demikian sistem ini dapat dipergunakan untuk membawa sinyal informasi dalam jumlah yang besar hanya dalam satu buah serat optik yang halus.
  3. Ukurannya kecil dan ringanDengan demikian sangat memudahkan pengangkutan pemasangan di lokasi. Misalnya dapat dipasang dengan kabel lama, tanpa harus membuat lubang polongan yang baru.
  4. Tidak ada interferensiHal ini disebabkan sistem transmisi serat optik mempergunakan sinar/cahaya laser sebagai gelombang pembawanya. Sebagai akibatnya akan bebas dari cakap silang (cross talk) yang sering terjadi pada kabel biasa. Atau dengan perkataan lain kualitas transmisi atau telekomunikasi yang dihasilkan lebih baik dibandingkan transmisi dengan kabel. Dengan tidak terjadinya interferensi akan memungkinkan kabel serat optik dipasang pada jaringan tenaga listrik tegangan tinggi (high voltage) tanpa khawatir adanya gangguan yang disebabkan oleh tegangan tinggi.
  5. Kelebihan lain, antara lain

Adanya isolasi antara pengirim (transmitter) dan penerimanya (receiver), tidak ada ground loop serta tidak akan terjadi hubungan api pada saat kontak atau terputusnya serat optik. Dengan demikian sangat aman dipasang di tempat-tempat yang mudah terbakar. Seperti pada industri minyak, kimia, dan sebagainya.

Kabel Coaxial Kabel Serat Optik
Delay 0.005 ms/km 0.048 ms/km
Keamanan - aman dari penyadapan
- tidak dapat di jamming
- aman dari penyadapan
- tidak dapat di jamming
Penambahan kanal
Kapasitas kanal
Transmisi TV
Broadcast
Transmisi data
Umur sistem
MTBF
memasang kabel baru
sedang-besar
baik, tidak ekonomis
tidak dapat
baik, tidak praktis
lebih dari 25 tahun
± 10 tahun
memasang kabel baru
sedang-besar sekali
baik dan ekonomis
tidak dapat
baiksekali
lebih dari 25 tahun
± 10 tahun

Prinsip Kerja Transmisi pada Serat Optik

Berlainan dengan telekomunikasi yang mempergunakan gelombang elektromagnet maka pada serat optik gelombang cahayalah yang bertugas membawa sinyal informasi. Pertama-tama microphone merubah sinyal suara menjadi sinyal listrik. Kemudian sinyal listrik ini dibawa oleh gelombang pembawa cahaya melalui serat optik dari pengirim (transmitter) menuju alat penerima (receiver) yang terletak pada ujung lainnya dari serat. Modulasi gelombang cahaya ini dapat dilakukan dengan merubah sinyal listrik termodulasi menjadi gelombang cahaya pada transmitter dan kemudian merubahnya kembali menjadi sinyal listrik pada receiver. Pada receiver sinyal listrik dapat dirubah kembali menjadi gelombang suara.

Tugas untuk merubah sinyal listrik ke gelombang cahaya atau kebalikannya dapat dilakukan oleh komponen elektronik yang dikenal dengan nama komponen optoelectronic pada setiap ujung serat optik.

Dalam perjalanannya dari transmitter menuju ke receiver akan terjadi redaman cahaya di sepanjang kabel serat optik dan konektor-konektornya (sambungan). Karena itu bila jarak ini terlalu jauh akan diperlukan sebuah atau beberapa repeater yang bertugas untuk memperkuat gelombang cahaya yang telah mengalami redaman.

Jenis Serat Optik

Berdasarkan sifat karakteristiknya maka jenis serat optik secara garis besar dapat dibagi menjadi 2 yaitu :

  1. MultimodePada jenis serat optik ini penjalaran cahaya dari satu ujung ke ujung lainnya terjadi dengan melalui beberapa lintasan cahaya, karena itu disebut multimode. Diameter inti (core) sesuai dengan rekomendasi dari CCITT G.651 sebesar 50 m m dan dilapisi oleh jaket selubung (cladding) dengan diameter 125 m m.

    Sedangkan berdasarkan susunan index biasnya serat optik multimode memiliki dua profil yaitu graded index dan step index. Pada serat graded index, serat optik mempunyai index bias cahaya yang merupakan fungsi dari jarak terhadap sumbu/poros serat optik. Dengan demikian cahaya yang menjalar melalui beberapa lintasan pada akhirnya akan sampai pada ujung lainnya pada waktu yang bersamaan. Berlainan dengan graded index, maka pada serat optik step index (mempunyai index bias cahaya sama) sinar yang menjalar pada sumbu akan sampai pada ujung lainnya dahulu (dispersi) Hal ini dapat terjadi karena lintasan yang melalui poros lebih pendek dibandingkan sinar yang mengalami pemantulan pada dinding serat optik. Sebagai hasilnya terjadi pelebaran pulsa atau dengan kata lain mengurangi lebar bidang frekuensi.

    Oleh karena itu secara praktis hanya serat optik graded index sajalah yang dipergunakan sebagai saluran transmisi serat optik multimode.

  2. Single Mode

Serat optik single mode/monomode mempunyai diameter inti (core) yang sangat kecil 3 – 10 m m, sehingga hanya satu berkas cahaya saja yang dapat melaluinya. Oleh karena hanya satu berkas cahaya maka tidak ada pengaruh index bias terhadap perjalanan cahaya atau pengaruh perbedaan waktu sampainya cahaya dari ujung satu sampai ke ujung yang lainnya (tidak terjadi dispersi). Dengan demikian serat optik singlemode sering dipergunakan pada sistem transmisi serat optik jarak jauh atau luar kota (long haul transmission system). Sedangkan graded index dipergunakan untuk jaringan telekomunikasi lokal (local network).

Bit rate
( Mbit/dt )

Jarak repeater
multimode

Jarak repeater
singlemode

140
280
420
565

30
20
15
10

50
35
33
31

Tim Elektron HME-ITB
elektron@hme.ee.itb.ac.id

tentang televisi

Januari 11, 2009

SEJARAH TELEVISI DAN INOVASI TELEVISI

Sebelum saya lebih jauh lagi menulis perkembangan dunia televisi, maka alangkah baiknya jika blog ini juga saya isi dengan tulisan tentang sejarah penemuan dan inovasi televisi di dunia. Saya menyusun bahan ini dari berbagai sumber, termasuk Wikipedia.

Kata televisi berasal dari kata tele dan vision; yang mempunyai arti masing-masing jauh (tele) dan tampak (vision). Jadi televisi berarti tampak atau dapat melihat dari jarak jauh. Penemuan televisi disejajarkan dengan penemuan roda, karena penemuan ini mampu mengubah peradaban dunia. Di Indonesia ‘televisi’ secara tidak formal disebut dengan TV, tivi, teve atau tipi.

Dalam penemuan televisi, terdapat banyak pihak, penemu maupun inovator yang terlibat, baik perorangan maupun perusahaan. Televisi adalah karya massal yang dikembangkan dari tahun ke tahun.

Awal dari televisi tentu tidak bisa dipisahkan dari penemuan dasar, yaitu hukum Gelombang Elektromagnetik yang ditemukan oleh Joseph Henry dan Michael Faraday (1831) yang merupakan awal dari era komunikasi elektronik.

1876 – George Carey menciptakan Selenium Camera yang digambarkan dapat membuat seseorang melihat gelombang listrik. Belakangan, Eugen Goldstein menyebut tembakan gelombang sinar dalam tabung hampa itu dinamakan sebagai Sinar Katoda.

1884 – Paul Nipkov, Ilmuwan Jerman, berhasil mengirim gambar elektronik menggunakan kepingan logam yang disebut Teleskop Elektrik dengan resolusi 18 garis.

1888 – Freidrich Reinitzeer, ahli botani Austria, menemukan cairan kristal (liquid crystals), yang kelak menjadi bahan baku pembuatan LCD. Namun LCD baru dikembangkan sebagai layar 60 tahun kemudian.

1897 – Tabung Sinar Katoda (CRT) pertama diciptakan oleh ilmuwan Jerman, Karl Ferdinand Braun. Ia membuat CRT dengan layar berpendar bila terkena sinar. Inilah yang menjadi cikal bakal televisi layar tabung.

1900 – Istilah Televisi pertama kali dikemukakan Constatin Perskyl dari Rusia pada acara International Congress of Electricity yang pertama dalam Pameran Teknologi Dunia di Paris.

1907 – Campbell Swinton dan Boris Rosing dalam percobaan terpisah menggunakan sinar katoda untuk mengirim gambar.

1927 – Philo T Farnsworth ilmuwan asal Utah, Amerika Serikat mengembangkan televisi modern pertama saat berusia 21 tahun. Gagasannya tentang image dissector tube menjadi dasar kerja televisi.

1923 – Vladimir Kozma Zworykin, mendaftarkan paten atas namanya untuk penemuannya, kinescope, televisi tabung pertama di dunia. Setahun kemudian, dia mendapat kewarganegaraan Amerika Serikat dan menyelesaikan studi doktornya di Universitas Pittsburgh. Vladimir lahir di Rusia, 30 Juli 1889. Dia menyempurnakan tabung katoda yang dinamakan kinescope. Temuannya mengembangkan teknologi yang dimiliki CRT. Dia bekerja di perusahaan elektronik RCA dan selama 1930 hingga 1940-an, perusahaan itu memanjakannya dengan menguras dana US$ 150 juta untuk produksi teknologi televisi. Keterbukaan Zworykin pada kritik, membuatnya menemukan penemuan baru lagi. Sebuah kamera tabung. Ini melengkapi teknologi televisi tabung penemuannya. Penemuan itu dinamakannya iconoscope, berasal dari bahasa Yunani, icon yang berarti citra dan scope yang berarti mengamati. Ia meninggal karena usia tua pada 29 Juli 1982. Dialah yang kemudian sebagai Sang Penemu Televisi. (1889-1982).

1939 – tepatnya tanggal 11 Mei, untuk pertama kalinya, sebuah pemancar televisi dioperasikan di kota Berlin, Jerman. Dengan demikian, dunia mulai berkenalan dengan alat komunikasi secara visual. Stasiun televisi itu kemudian diberi nama Nipko, sebagai penghargaan terhadap Powel Nipkov, ilmuwan terkenal Jerman dan salah seorang penemu peralatan televisi.

1940 – Peter Goldmark menciptakan televisi warna dengan resolusi mencapai 343 garis.
1956 – Robert Adler kelahiran Amerika Serikat bersama rekannya Eugene Polley, menemukan remote control televisi. Walaupun bukan televisinya, tetapi penemuannya menjadi sangat penting bagi teknologi televisi. Dia meninggal dalam usia 93 tahun. Penerima penghargaan Emmy tahun 1997 karena penemuannya itu mendapatkan lebih dari 180 paten Amerika selama karir 58 tahunnya. Menurut istrinya, pengendali jarak jauh televisi itu bukanlah penemuan favoritnya dan dia jarang menonton televisi.

1958 – Sebuah karya tulis ilmiah pertama tentang LCD sebagai tampilan layar televisi dikemukakan oleh Dr. Glenn Brown.

1964 – Prototipe sel tunggal display Televisi Plasma pertamakali diciptakan Donald Bitzer dan Gene Slottow. Langkah ini dilanjutkan Larry Weber.

1967 – James Fergason menemukan teknik twisted nematic, layar LCD yang lebih praktis.
1968 – Layar LCD pertama kali diperkenalkan lembaga RCA yang dipimpin George Heilmeier.
1975 – Larry Weber dari Universitas Illionis mulai merancang layar plasma berwarna.

1979 – Para Ilmuwan dari perusahaan Kodak berhasil menciptakan tampilan jenis baru organic light emitting diode (OLED). Sejak itu, mereka terus mengembangkan jenis televisi OLED. Sementara itu, Walter Spear dan Peter Le Comber membuat display warna LCD dari bahan thin film transfer yang ringan.

1981 – Stasiun televisi Jepang, NHK, mendemonstrasikan teknologi HDTV dengan resolusi mencapai 1.125 garis.

1987 – Kodak mematenkan temuan OLED sebagai peralatan display pertama kali.
1995 – Setelah puluhan tahun melakukan penelitian, akhirnya proyek layar plasma Larry Weber selesai. Ia berhasil menciptakan layar plasma yang lebih stabil dan cemerlang. Larry Weber kemudian megadakan riset dengan investasi senilai 26 juta dolar Amerika Serikat dari perusahaan Matsushita.

2000-an, masing-masing jenis teknologi layar semakin disempurnakan. Baik LCD, Plasma maupun CRT terus mengeluarkan produk terakhir yang lebih sempurna dari sebelumnya.

2008 dan seterusnya, menyusul perkembangan televisi digital di negara-negara Amerika dan Eropa, Indonesia juga akan menerapkan sistem penyiaran Televisi digital (Digital Television/DTV) adalah jenis TV yang menggunakan Modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyebarluaskan video, audio, dan signal data ke pesawat televisi.

Latar belakang pengembangan televisi digital:
-Perubahan lingkungan eksternal
-Pasar TV analog yang sudah jenuh
-Komplain adanya noise, ghost dll
-Kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel (Cable Television)

Perkembangan teknologi :
-Teknologi pemrosesan sinyal digital (Digital Signal Processor)
-Teknologi transmisi digital
-Teknologi semikonduktor
-Teknologi peralatan display yang beresolusi tingggi

Keunggulan televisi digital :
-High Definition. 5~6 kali lebih halus dibanding televisi analog
-Finest sound. Kemampuan mereproduksi suara seperti sumber aslinya
-Multifunction. Memberi kemampuan untuk merekam dan mengedit siaran
-Multichannel (satu saluran dapat diisi lebih dari 5 program yang berbeda.

Dampak Media Televisi terhadap Masyarakat

by Yohanes

Pernah ditulis dalam rubric opini koran kompas tentang budaya membaca, dimana dalam rubric tersebut penulis mengatakan di Amerika sekarang ini terjadi pergeseran dari budaya membaya menjadi budaya lisan. Orang lebih suka menonton acara TV dari pada membaca. Ini belum termasuk pengaruh dari internet. Tetapi setidaknya di Amerika pernah mengalami masa budaya membaca, dimana minat untuk membaca masyarakat disana sangat tinggi. Bagaimana dengan Indonesia?

Belum lagi memasuki budaya membaca, Indonesia sudah dipaksa atau mungkin dengan sukarela beralih ke budaya lisan dan budaya visual. Hal ini dapat dilihat dari dominasi televisi di Indonesia dan rendahnya minat membaca masyarakat. Saat ini kebanyakan masyarakat di Indonesia menghabiskan waktu luang mereka untuk menonton acara televisi. Berbagai alasan mereka utarakan, ya untuk hiburan, daripada tidak ada kerjaan, dll. Hal ini menurut saya sangat mengkuatirkan. Bagaimana tidak, acara yang ditawarkan stasiun-stasiun di negara kita hampir tidak ada yang berkualitas. Acara berita dipenuhi dengan berita-berita kriminalitas. Acara hiburan didominasi oleh sinetron-sinetron yang sama sekali tidak berbobot. Belum ditambah lagi dengan acara infotaintment dan setumpuk acara-acara sampah lainnya. Dan itu ditawarkan oleh hampir semua stasiun televisi yang ada. Setiap hari masyarakat dicekokin dengan dengan sampah, dihibur dengan sampah. Acara iptek, pendidikan, dan acara lain yang memberikan informasi yang bermanfaat sangatlah minim atau bahkan tidak ada. Acara-acara yang cukup berkualitas rata-rata merupakan relay dari acara stasiun televisi di luar negeri, seperti CNN, National Geographic, dll.

Bagaimana jika hal ini terus berlanjut? Kita lihat dampak media terhadap anak-anak yang merupakan generasi bangsa. Anak-anak sekarang ini mulai berkiblat pada kehidupan artis. Anak-anak sudah tidak lagi menonton acara anak-anak, tetapi sinetron, infotainment, berita kriminalitas, dll. Anak-anak tidak lagi mengenal lagu anak-anak. Dampak nyata yang terlihat dan sangat memprihatinkan adalah meningkatnya tingkat bunuh diri yang dilakukan oleh anak-anak. Darimana mereka mendapat ide dan informasi tentang bunuh diri? Dari sekolah? Dari lingkungan sekitar? Atau dari media? Atau darimana? Menurut saya media-lah yang menjadi sumber informasi dominan. “Bunuh diri merupakan puncak dari frustrasi. Pelaku merasa tidak ada solusi terhadap masalahnya, tidak ada harapan. Dalam kondisi tersebut hiburan yang didapat hanyalah berita-berita kriminalitas, maka terjadilah bunuh diri. Hal ini bukan semata kesalahan media, tapi satu hal yang pasti media memberikan andil yang sangat besar.

Itu baru salah satu dampak negatif dari media televisi di negara kita padahal masih banyak dampak lainnya spt:

- menurunnya atau hilangnya minat membaca masyarakat.

- menurunnya atau hilangnya rasa malu

banyaknya berita tentang korupsi dan penipuan, maupun tindakan criminal lainnya yang banyak dilakukan oleh pejabat membuat terjadinya degradasi rasa malu pada masyarakat, baik secara sadar mau tidak sadar. Masyarakat akan berpikir, “wong yang sudah kaya dan punya jabatan saja masih begitu kenapa saya yang hidupnya susah gak boleh begitu”. Seolah-olah korupsi itu bukan lagi hal memalukan. Contoh lainnya adalah Roy Suryo. Anda tentu mengenal Roy Suryo yang katanya pakar telematika. Atas dasar apa media mengatakan dia itu pakar telematika? Padahal sebenarnya dia hanya seorang yang tidak kompeten dan gak tau malu yang mencari popularitas. Tetapi apa yang dilakukan media? Media memblooming berita tentang dia. Media gak mau tau bahwa hal ini bisa berdampak buruk terhadap masyarakat, memberikan contoh figure yang gak tau malu.

- meningkatnya kriminalitas

- meningkatnya percerain

masyarakat disuguhi dengan tayangan infotainment terus-menerus. Kehidupan artis jadi santapan setiap hari. Berita kawin cerai artis jadi makanan sehari-hari. Hal ini secara perlahan tapi pasti akan mempengaruhi kehidupan masyarakat pada umumnya. Hal ini terbukti dengan semakin meningkatnya perceraian di masyarakat. Masyarakat tidak lagi memiliki beban moral untuk bercerai.

- menciptakan masyarakat yang konsumtif

- menciptakan masyarakat pemalas

karena setiap hari dihadapkan dengan iklan-iklan yang menggoda, ditambah lagi efek dari sinetron-sinetron yang hanya menceritakan kehidupan orang-orang kaya membuat masyarakat menjadi konsumtif.

- dan masih banyak lagi

Apakah ada dampak positifnya? Tentu aja ada, seperti mudah mendapatkan informasi, hiburan, dll. Tetapi permasalahannya adalah dampak positif yang diberikat tidak sebanding dengan dampak negatifnya.

Mengapa demikian?

Karena media di Indonesia menyuguhkan acara-acara yang tidak berkualitas. Media hanya mengejar keuntungan perusahaan semata. Tanggung jawab moral terhadap pendidikan di Indonesia masih sangat rendah. Kontrol dari pemerintah masih sangat kurang. Undang-undang yang gak jelas. Masyarakat juga terlalu mudah dimakan media. Minat belajar masyarakat juga masih rendah.

Bagaimana media itu semestinya?

Media semestinya mampu memberikan hiburan, informasi yang berkualitas dan bermanfaat. Media diharapkan dapat turut andil dalam peningkatan kualitas SDM di Indonesia. Media diharapkan dapat mengubah culture masyarakat menjadi lebih baik.


Sabda Hidup (Januari-Maret 2005)
Pengaruh Televisi & Film
(The Influence of Television And Movie)

Televisi saat ini adalah sarana elektronik yang paling digemari dan dicari orang. Untuk mendapatkan televisi tidak lagi sesusah zaman dahulu dimana perangkat komunikasi ini adalah barang yang langka dan hanya kalangan tertentu yang sanggup memilikinya. Saat ini televisi telah menjangkau lebih dari 90 persen penduduk di negara berkembang. Televisi yang dulu mungkin hanya menjadi konsumsi kalangan dan umur tertentu saat ini bisa dinikmati dan sangat mudah dijangkau oleh semua kalangan tanpa batasan usia. Siaran-siaran televisi akan memanjakan orang-orang pada saat-saat luang seperti saat liburan, sehabis bekerja bahkan dalam suasana sedang bekerjapun orang-orang masih menyempatkan diri untuk menonton televisi. Suguhan acara yang variatif dan menarik membuat orang tersanjung untuk meluangkan waktunya duduk di depan televisi. Namun dibalik itu semua dengan dan tanpa disadari televisi telah memberikan banyak pengaruh negatif dalam kehidupan manusia baik anak-anak maupun orang dewasa. Kita harus berhati-hati sebab televisi selain bisa menjadi teman yang baik bisa juga menjadi musuh yang menghanyutkan.
Dalam sebuah survei yang dilakukan lebih dari setengah anak-anak di AS mempunyai televisi di kamar mereka. Usia remaja paling banyak menonton televisi di kamar dan hampir sepertiga anak-anak pra sekolah mempunyai televisi di kamar mereka dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk menonton televisi. Disebutkan juga adanya beberapa orang siswi sebuah sekolah yang bergantian bolos dari sekolah demi menonton sebuah tayangan opera sabun di televisi. Di Indonesia mungkin tidak sampai menjangkau persentase sebesar ini namun pengaruh televisi juga telah banyak membentuk pola pikir dari anak-anak Indonesia pada umumnya dan gereja pada khusunya. Dalam tayangan televisi saat ini terdapat banyak gaya kehidupan setan seperti kekerasan yang membuat bulu kuduk merinding, vulgaritas, kejahatan, kebencian, seks bebas, penipuan, tatanan rambut yang radikal, dan lain-lain. Orang yang semakin sering menonton tayangan-tayangan seperti itu pada akhirnya akan menerima hal itu sebagai sesuatu perbuatan yang normal. Dalam hal ini televisi telah menjadi propaganda terpenting yang dipakai setan saat ini terhadap manusia termasuk orang Kristen baik dewasa maupun anak-anak. Tidak bisa disangkal bahwa dewasa ini televisi adalah salah satu guru elektronik bagi anak-anak maupun orang dewasa. Apa yang harus dilakukan keluarga Kristen untuk mengatasi berbagai problema yang diakibatkan oleh tontonan televisi?

I. Sisi Positif Yang Bisa Diberikan Televisi bagi kita

Televisi hadir sebagai sarana untuk memperlancar hubungan dan komunikasi antar manusia. Banyak perubahan dan kemajuan yang terjadi pada masyarakat abad kedua puluh dengan datangnya media masa televisi.

Televisi menghibur kita.

Pada dasarnya fungsi televisi adalah memberikan hiburan yang sehat serta pengetahuan kepada pemirsanya. Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk yang membutuhkan hiburan. Raja Salomo menyadari betapa pentingnya warna dalam hidup ketika dia berkata, “ Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa-pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir…, ada waktu untuk tertawa,… ada waktu untuk menari,… (Pengkhotbah 3:1-8). Salomo tidak hanya membicarakan spiritualitas tetapi juga hiburan. Hiburan merupakan salah satu bagian dari hidup orang-orang dalam Perjanjian Lama. Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir mereka menari-nari, saat raja Saul merasa bersedih dan hatinya galau dia dihibur oleh Daud, ketika Tabut Perjanjian kembali ke tangan bangsa Israel, raja Daud menari-nari. Hidup akan berwarna bila ada hiburan. Televisi sebagai salah satu sarana hiburan sangat dibutuhkan semua orang. Hiburan-hiburan yang sehat yang ditayangkan di televisi seperti musik, film, infotainment dan lain-lain sangat bermanfaat unutk mencairkan kejenuhan setelah sehari bekerja keras. Hal itu membuat pikiran kita kembali segar dan melupakan sejenak kelelahan sepanjang hari. Dahulu pada saat kita hanya memiliki stasiun TVRI (Televisi Republik Indonesia) orang-orang sangat kehausan hiburan dan terasa sekali betapa berharganya setiap acara hiburan yang ditayangkan. Contohnya drama seri Kisah Serumpun Bambu, Film Cerita Akhir Pekan, film dokumenter seperti Dian Rana, Flora dan Fauna, musik hiburan seperti Aneka Ria Safari, dan lain-lain adalah tayangan hiburan sehat yang jam tayangnya sangat ditunggu-tunggu.

Televisi Memberi Informasi, Pengetahuan & Pendidikan.

Televisi bisa mengerutkan dunia dan melaksanakan penyebaran berita dan gagasan lebih cepat. Dengan adanya media televisi dunia kelihatan semakin kecil dari sebelumnya. Kita bisa memperoleh kesempatan untuk memperoleh informasi yang lebih baik tentang apa yang terjadi di dunia. Berita-berita aktual bisa langsung disebarkan ke berbagai pelosok dunia secara langsung. Gempa bumi, penyakit menular, kriminalitas, peristiwa olah-raga terkini yang terjadi di belahan bumi bisa disaksikan bersama-sama oleh berjuta-juta orang. Media televisi telah bisa menyatukan hati semua orang melalui informasi yang diberikan. Dengan menonton tayangan televisi akan bisa menambah wawasan kita. Orang Kristen membutuhkan informasi. Demi kelancaran pemberitaan Injil maka kita perlu memiliki pengetahuan akan dunia dan sekitar kita yang tidak hanya kita lihat melalui buku tetapi dengan melihat dan mendengar dari televisi. Televisi menambah pengetahuan kita. Industri pertelevisian di negara kita khususnya sebenarnya banyak menayangkan informasi-informasi yang akurat tentang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Ada berita baik yaitu saat ini gereja bisa memakai sarana televisi untuk memberitakan Injil. Di negara besar seperti Amerika Serikat menginjili melalui televisi adalah merupakan hal yang lazim. Sehingga berjuta-juta orang bisa melihat dan mendengar Injil di televisi dan begitu banyak jiwa telah mentaati Injil melalui kontribusi penyiaran televisi.

II. Sisi Negatif Yang Bisa Diberikan Televisi Bagi Kita

Pengaruh yang tercipta oleh media televisi bisa mempercepat kehancuran nilai-nilai agama dan moral tradisional dari pemirsanya.

Televisi Bisa Melukai dan Merusak Peradaban Kita.

Komunikasi tanpa batas telah banyak mengakibatkan pergeseran moral. Banyak tayangan televisi saat ini yang sudah kehilangan fungsi. Yang seharusnya memberikan hiburan untuk membangun ahklak malah melukai pemirsa baik-anak-anak maupun dewasa. Yang seharusnya televisi itu dibuat dan dirancang sebagai pendukung moral namun pada kenyataannya tidak demikian yang terjadi. Televisi menjadi pusat komersial nomor satu. Acara-acara dikemas untuk bisa dijual ke publik . Kemasan acara-acara penjadi persoalan selera bagi beberapa produser atau pihak stasiun televisi. Bagi mereka yang penting adalah rating acara tetap tinggi sehingga membuat acara semenarik mungkin untuk menggoda emosi dan selera pemirsa. Banyak acara-acara yang berkualitas namun karena tidak memiliki nilai jual yang tinggi, pihak stasiun televisi enggan untuk membeli. Hal ini sangat disayangkan. Program acara yang ditayangkan banyak yang melukai moral, martabat dan juga fisik manusia. Banyak acara televisi yang sama sekali tidak menghargai kehidupan bermasyarakat dan beragama. Banyak yang tidak lagi mengejar impian dan nilai-nilai moral tetapi sebaliknya menyerap nilai-nilai yang menyimpang dari masyarakat yang sakit. Mengajarkan orang bagaimana berbuat licik, jahat, membunuh, seni berbohong. Tayangan-tayangan yang berbau kekerasan, seksual, banyak mempengaruhi jalan pikiran pemirsa yang akibatnya adalah mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang normal untuk dilakukan. Sangat disayangkan sepertinya tidak ada lembaga sensor untuk sinetron tentang tindakan yang terlihat begitu vulgar di televisi. Semua tayangan yang berbau kekerasan, setan, hantu, tidak satupun yang mendidik orang untuk lebih baik Hal yang lain yang sangat menyedihkan adalah bahwa banyak tayangan-tayangan film ataupun sinetron dalam televisi yang menggunakan kata-kata makian, hujatan, kebencian, kata-kata yang mengarah pada seks, namun sangat jarang sekali menayangkan resiko dari suatu tanggung jawab akan hal-hal yang terjadi. Adegan-adegan kekerasan, kebencian dan kejahatan, orang tua dan anak bekerja-sama melakukan kejahatan demi uang, anak-anak melawan dan memaki orang tua, murid-murid melawan guru yang akibatnya guru seperti tidak memiliki harga lagi di masyarakat, dan kejahatan moral lainnya juga sangat mudah didapatkan dalam tayangan-tanyangan televisi seperti sinetron, telenovela dan olah raga. Misalnya dalam sinetron Bidadari, Dia, Bawang Putih Bawang Merah, Tersanjung, Smach Down, dan lain-lain. Memang pengaruh negatif dari tayangan-tayangan seperti di atas tidak akan langsung terlihat. Begitu seseorang menonton sebuah adegan pembunuhan sadis dia tidak akan pergi keluar dan melakukan pembunuhan sadis. Tetapi akan terlihat kelak dimana bila semakin banyak seseorang itu menonton acara-acara kekerasan maka akan semakin besar kemungkinan bagi dia untuk berpikir bahwa hal semacam itu normal-normal saja dan boleh untuk dipraktekkan.

Televisi Bisa Menyita Banyak Waktu Berharga Kita.

Berdasarkan survey, kurang 25 % orang tua percaya bahwa anak-anak mereka lebih banyak menonton televisi. Pada akhirnya televisi akan memanjakan pemirsa yang membuat orang lupa untuk beraktivitas, menghancurkan gairah kerja, dan lain-lain. Banyak acara populer yang ditayangkan pada tengah malam atau subuh. Para penggemar acara tersebut akan memilih untuk duduk di depan televisi semalaman dari pada memikirkan pekerjaan esok hari. Akhirnya keadaan ini mengurangi ethos dan kualitas kerja. Satu hal yang sangat menyedihkan bagi kalangan orang Kristen adalah adanya anggota jemaat yang lebih memilih menonton pertandingan siaran langsung tinju atau sepak bola pada hari Minggu siang dari pada mengikuti kebaktian di jemaat lokal.

Televisi Bisa Membohongi dan Sekaligus Membuat Kita Lupa Diri.

Cerita-cerita yang tidak masuk akal, diluar logika, iklan-iklan yang sangat menggiurkan banyak mempengaruhi penonton. Kehidupan fantasi yang mengeksploitasi seks, kekayaan, dewi penolong. Sinetron ataupun film di televisi banyak menyajikan model tindakan dan konsekuensi yang sepenuhnya tidak realistis. Pahlawan-pahlawan film bisa mengatasi masalah yang paling sulit dalam hitungan detik. Model seperti ini bisa mempunyai pengaruh atas cara pendekatan anak-anak kepada masalah. Namun yang lebih membahayakan lagi adalah dampak konsumsi sehari-hari dari tokoh idola dalam cerita dan acara yang hanya memperlihatkan sedikit perbedaan antara benar dan salah. Anak-anak sangat mudah terpengaruh dan mengadopsi kehidupan sang tokoh film dalam kehidupannya dan menginginkan diri seperti tokoh tersebut. Ada anak kecil yang membunuh adiknya. Setelah di lakukan investigasi, ditemukan bahwa penyebabnya adalah mereka bermain “supermen-supermenan” di kamar. Dia mengikat leher adiknya dengan kain sarung dan mendorongnya dari atas ranjang yang agak tinggi dengan keyakinan sang adik akan bisa melepaskan diri dari ikatan tersebut seperti yang dilakukan superman. Si adik tidak bisa dan akhirnya nyawanyapun melayang. Hal ini terjadi adalah karena pengaruh dari tontonan televisi. Lihatlah betapa dahsyat dan mengerikannya pengaruh tayangan sedemikian terhadap generasi-generasi penerus kita. Televisi banyak mempengaruhi pemirsa secara psikologis. Banyak tayangan yang mengajak pemirsanya untuk hidup dalam dunia delusi atau alam khayalan. Menciptakan kecemburuan yang akhirnya memaksa diri untuk melakukan kejahatan demi memenuhi hasrat. Televisi mengajarkan kepuasan sesaat, seperti iklan yang digunakan untuk menarik anak-anak dan remaja dan menarik mereka membeli suatu produk yang menipu. Televisi mengajarkan bahwa kebahagiaan berarti memiliki segala sesuatu.

Televisi Bisa Mempengaruhi Cara Keluarga Berinteraksi.

“Apa acara menarik malam ini?” pertanyaan ini telah menggantikan tempat, “Ayah, apakah ayah bisa membantu saya melakukan pekerjaan rumah ini?” Keluarga yang dahulu biasa berkumpul mengelilingi meja makan untuk bercakap-cakap, sekarang bukannya bertukar berita dan pandangan antara orang tua dengan anak. Tetapi sekarang meja makan telah berpindah ke depan televisi. Anak-anak lebih banyak membuang waktunya duduk di depan televisi dari pada berkomunikasi dengan orang tuanya. Suami dan isteri sampai saling beradu tegang untuk memegang remote kontrol. Seorang ibu yang sedang asyik menonton tayangan sinetron mencubit anaknya yang menangis minta diambilkan susu. Televisi telah banyak membuat kalut komunikasi yang efektif. Anak-anak remaja lebih bisa menghafal lagu dari Britney Spears daripada tugas yang diberikan guru dan orang tua.

III. Apakah Yang Harus Kita Lakukan Untuk Mengatasi Problema Yang Diakibatkan?

Semua kalangan gereja (pemimpin, penginjil, pengajar, orang tua, pemimpin kaum muda, pemimpin anak-anak bertanggung jawab untuk mencari solusi bagaimana agar pengaruh negatif televisi bisa dihindarkan.

Adakan Kebaktian Keluarga.

Menonton televisi bukanlah sesuatu yang terlarang atau dosa. Namun sebagai orang Kristen kita perlu membuat prioritas dalam kegiatan keluarga kita. Kebaktian keluarga seharusnya menjadi pilihan utama. Tekankan masalah-masalah moral dan pengaruh televisi dalam kebaktian tersebut kepada semua anggota keluarga. Menonton televisi bukanlah prioritas. Kalangan anak-anak dan remaja adalah korban yang paling banyak dari pengaruh negatif televisi. Merupakan prospek yang mengerikan membesarkan anak-anak kita di tengah-tengah hiburan yang rusak dan tidak bermoral. Sama relevannya ketika raja Daud berkata dalam Mazmur 11:3, ”Apabila dasar-dasar dihancurkan, apakah yang dapat dibuat oleh orang benar itu?” Dengan kata lain bila tata-tertib moral telah berantakan maka orang baik tidak akan berdaya. Sebab itu orang tua harus berhati-hati. Kebaktian keluarga adalah sebuah wadah yang sangat efektif untuk membantu mengatasi hal ini. Anak-anak harus lebih banyak mendapatkan pendidikan rohani daripada tontonan hiburan duniawi. Dalam Perjanjian Lama Musa menasihatkan orang tua di Israel agar selalu berfokus pada kerohanian anak-anak mereka, “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun” (Ulangan 6:6-7). Mau tidak mau harus disadari bahwa pemuda-pemudi secara umum saat ini hidup di tepi moral dan lebih dekat dengan bencana yang tidak pernah kita harapkan, dan televisi merupakan salah satu penyebab degradasi moral.

Selektif Dalam Memilih Acara Yang Ditonton.

Lebih baik menonton acara-acara yang berkualitas. Tidak semua tayangan di televisi itu buruk tetapi ada beberapa acara yang baik untuk ditonton. Dalam hal ini kita lebih baik melihat acara apa yang direkomendasikan. Contohnya, bila kita ingin menonton film, sangat baik bila kita membaca resensinya dahulu sebelum kita tonton. Kita sebagai keluarga Kristen harus bisa mengatasi bagaimana caranya agar penyakit ini jangan sampai menulari generasi gereja. Dalam hal ini kita harus bisa menjadi guru paling tidak bagi diri sendiri dan anggota keluarga dan jemaat. Prinsip dari nasihat Paulus kepada jemaat di Tesalonika untuk menguji segala sesuatu dan memegang yang baik mungkin bisa kita aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari ketika kita membuat pilihan apa yang harus dan apa yang tidak harus kita lakukan. Tuhan telah memberi kita akal untuk bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik. Jangan izinkan anak- anak Saudara mempunyai televisi di kamar. Televisi membuat anak-anak menutup diri dari keluarga dan keluarga akan sulit untuk memonitor program- program yang ditonton. Jika anak- anak Anda mempunyai televisi di kamar, pertimbangkan untuk memindahkan televisi tersebut atau bersiaplah untuk menghadapi konfllik yang besar dengan mereka. Kita harus menentukan acara televisi yang akan ditonton oleh anak kita setiap minggunya. Pastikan televisi tidak dihidupkan ketika acara ditetapkan untuk ditonton belum mulai. Jangan biarkan televisi hidup hanya untuk melihat iklan atau untuk mendengar suaranya saja. Orang tua juga perlu, mendampingi anak-anak saat menonton sebuah tayangan dan memberi mereka penerangan akan siaran yang ditonton. Kita perlu melihat bagaimana anak-anak menyikapi tontonan tersebut dan memberikan waktu untuk mendiskusikannya bersama. Orang tua juga perlu menetapkan jam untuk menonton.

Kesimpulan:

Salah satu issue yang paling sering menimbulkan konflik antara anak-anak dan orang tua adalah acara nonton televisi. Kapan, berapa sering, dan acara apa yang boleh dan tak boleh ditonton sering menjadi perdebatan yang panas bagi hubungan orang tua dan anak namun walaupun demikian Alkitab Perjanjian Baru memberikan dimana tempat ataupun lingkungan yang sehat untuk mendidik anak-anak. Komunikasi aktif antar keluarga adalah sarana yang paling sederhana dan efektif dalam membangun sebuah keluarga yang Kristiani. Pilihlah acara atau tayangan-tanyangan televisi yang sehat, informatif, membangun dan bernuansa Kristen. “Jauhkanlah dirimu dari segala jenis bentuk kejahatan” (1 Tessalonika 5:22).

Sumber yang dipakai untuk melengkapi artikel ini:
1. Majalah Gaharu, edisi November2004
2. Right from Wrong, oleh Josh Mc Dowell & BOB Hosttetler
3. Raising Awesome Kids, oleh Sam & Geri Laing.

Televisi untuk Kepentingan Bisnis

SEJAK kehadiran televisi swasta di Indonesia pada tahun 90-an, sulit dipungkiri betapa dahsyatnya pengaruh televisi terhadap pembentukan mental masyarakat serta ikut mempengaruhi bahkan menciptakan persepsi dan sikap pemirsa. Berita-berita Keganasan Israel di Lebanon dan Palestina, yang diberitakan telah menyulut kemarahan orang Indonesia, bahkan dunia karena efek visualisasi dan suara (narasi).

Kita dapat ikut menangis dan berempati, ketika menyaksikan mayat dan reruntuhan bencana gempa dan tsunami ditayangkan. dan masih banyak lagi. Di hampir setiap keluarga Indonesia hampir dipastikan terdapat kotak-kotak kecil itu, yang seolah-olah menjadi “kewajiban” hadirnya. Apa yang disiarkan televisi, seakan di-iya-kan oleh pemirsanya.

Lebih celaka lagi, anak-anak muda dan sebagian besar masyarakat awam yang (maaf) pendidikannya rendah, lebih percaya dan terbius oleh ceritera di sebagian besar sinetron dan infotainment yang juga (maaf) lebih bersifat materialis, hedonis dan pragmatis. Bagaimana hal ini bisa terjadi, dan mengapa? Sebetulnya apa yang dibawa televisi dan bagaimana seharusnya itu disikapi.

Efektivitas Televisi

Tidak berlebihan apabila dikatakan media televisi secara aktif ikut andil di dalam transformasi budaya bangsa. Paling tidak ada dua hal yang menyebabkanya. Pertama, jika dilacak lebih jauh budaya tradisional bangsa Indonesia, yaitu budaya lesan yang menitikberatkan penyampaian informasi secara langsung, tanpa tulisan akan kita jumpai pula dalam bentuknya yang baru, dikemas lewat layar-layar kecil televisi.

Kehadiran “ibu kedua” ini secara psikologis sangat cepat diterima. Jadilah ia sebagai media audiovisual yang menjadi lebih tajam/efektif masuk ke dalam wacana gagasan pemirsanya.

Kedua, lewat kekuatan yang dimiliki televisi, proses “mencuci otak” dengan cara mengubah pola pikir, merombak sikap mental dan tatanan masyarakat relatif lebih mudah. Menarik apa yang dikatakan Jalaludin Rahmat (1993) bahwa media televisi mempunyai kekuatan tersembunyi untuk menggambarkan apa yang terjadi, apa yang penting dalam berbagai kejadian serta menjelaskan hubungan-hubungan dan makna yang ada di antara kejadian-kejadian itu.

Hal ini karena media audiovisual (televisi) merupakan media abstraksi tingkat pertama dari sebuah realitas sosial. Mengapa? Karena media ini merupakan sajian yang paling mendekati realitas yang sebenarnya dibanding dengan audio lain (radio misalnya) yang menempati tingkat abstraksi selanjutnya.

Apalagi dibanding dengan buku yang dalam hal-hal tertentu banyak menyajikan teori. Walaupun teori merupakan abstraksi dari realitas sosial, akan tetapi tingkat abstraksinya jauh di atas televisi.

Peristiwa baik yang bebar-bernar terjadi maupun realitas yang direkayasa, lewat layar-layar kecil yang berfungsi sebagai jendela dunia, disajikan secara visual disertai dengan narasi atau sarana audio lain terhadap peristiwa yang dipotret. Dengan demikian konsekuensinya, masyarakat awam akan sangat mudah mencerna/menyerap (dipengaruhi) abstraksi tingkat pertama yang disajikan oleh televisi.

“Raja” Media Televisi

Dengan daya hipnotisnya yang nampak dari kekuatan televisi, penetrasi yang hampir tanpa batas, dan efektivitas media audiovisual ini, menjadikan televisi pada posisi yang sangat strategis, konsekuensi logikanya adalah munculnya berbagai kepentingan yang saling berdesakan, baik politik, bisnis, pendidikan, hiburan dll.

Ada satu hal yang menjadi titik temu dari heterogonitas kepentingan, yaitu promosi nilai. Walaupun beragam tayangan yang disajikan untuk mewakili kepentingan yang berbeda, tapi itu cuma “bungkus” sedangkan isinya tetap; Nilai!.

Celakanya, kalau nilai yang dipromosikan adalah materialisme, hedonisme, dan pragmatisme. Sudah bisa ditebak budaya apa yang akan terbangun kelak pada suatu generasi, atau jangan-jangan budaya itu telah merasuki kita sekarang ini !

Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah siapa yang menjadi “raja” yang akan menguasai promosi nilai? Kata Kolakowski, “jika mau melakukan promosi nilai ada tiga faktor yang harus diperhitungkan. Pertama; kekuasaan, kedua; uang, dan ketiga; kata atau bahasa.”

Pada faktor ketiga tentang promosi nilai dari Kolakowski inilah, televisi menduduki perannya. Sedangkan siapa yang menjadi “raja” adalah mereka yang memiliki kekuasaan dan uang-lah yang punya kesempatan menguasai kata/bahasa, menguasai televisi !.

Perlu Kearifan

Kegiatan komunikasi (televisi) akan selalu mengundang implikasi etis. Bahkan sejak awal proses komunikasi terikat oleh dan bersandar pada nilai-nilai etis tertentu dalam masyarakat (Dedy Djamaludin Malik 1995; seminar Media di UGM).

Nilai-nilai etis tersebut merupakan kristalisasi dari proses interaksi sosiologis sesama manusia dalam konteks dan seiring sosio kultural dan politik tertentu. Dalam kaitan inilah, televisi sebagai salah satu media komunikasi akan terikat dan bersandar pada nilai-nilai etis tertentu.

Kembali pada soal promosi nilai, yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah nilai mana yang akan dipromosikan? Nilai budaya Amerika ? Nilai budaya pragmatisme, hedonisme, materialisme ? Atau nilai-nilai asli budaya Bangsa sendiri, Bangsa Indonesia.

Menyadari kekuatan serta pengaruh negatif yang timbul karena kedahsyatan efektivitas televisi, maka sudah sepatutnyalah yang mempunyai kekuasaan dan uang sebagai decision maker menyadari dan menyeleksi terhadap nilai yang akan dipromosikan televisi, yang punya kesempatan lebih untuk ikut andil dalam mengarahkan transformasi budaya, mempunyai kearifan, punya komitmen dan tanggung jawabterhadap bentuk budaya bangsa.

Hal ini penting agar arah transformasi budaya tidak terkilir ke dalam suatu posisi di mana mental (jiwa) masyarakat berada dalam kondisi yang “sakit”. Dengan demikian sudah tiba saatnya (kalau tidak mau disebut terlambat) bagi pemegang kendali, baik pemerintah, owners televisi maupun komunikator (pembuat program-program siaran), mendudukkan fungsi/ peran televisi sebagai agen perubahan social yang nyata, tidak semata-mata sebagai media pendidikan, penerangan, maupun bahkan banyak yang beranggapan sebagai hiburan.

Fungsi ini hendaknya disadari dan dijelaskan oleh “raja” media televisi sehingga tidak menjadi masalah manakala fungsi ini diderivasikan kedalam bentuk-bentuk yang lain. Mengapa? Sebab dengan menerapkan fungsi tersebut, maka antarberbagai derivasi ada semacam link and match untuk mengarahkan transformasi budaya bangsa ke arah titik yang sesuai dengan alam budaya Indonesia.

Beberapa Pemikiran

Dengan mengubah paradigma yang menjadikan fungsi televisi sebagai agen perubahan ( ibarat sebagai kumpulan manusia khusus yang berada di tiap keluarga, yang selalu “berkotbah” tiap hari) maka kita telah memulai reinterpretasi terhadap pemahaman fungsi televisi. Kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan aksi (meminjam istilah Kuntowijoyo, 1992).

Aksi tersebut hendaknya dapat memanfaatkan kekuasaan serta efektivitas televisi untuk mendorong proses perubahan sosial dalam konteks transformasi budaya yang mengarah pada suatu tatanan yang mempunyai nilai-nilai humanistik dan nilai-nilai luhur dan bukan (maaf) nilai-nilai “nyinyir” seperti dipertontonkan pada sinetron, dan tayangan infotainment lainya

Dalam konteks pertelevisian inilah, aksi tersebut dapat dilakukan melalui kode etik maupun undang-undang pertelevisian yang akan dijadikan rujukan maupun sandaran bagi stasiun televisi didalam mengemas paket-paket acaranya.

Apa pun bentuk (isi) serta muatan yang akan dielaborasikan ke dalam etika pertelevisian maupun undang-undang, paling tidak ada beberapa hal yang patut dipertimbangkan. Pertama: amanat, berarti dapat dipercaya karena pesan yang disampaikan adalah benar, jujur, dan tidak dimanipulasi. Prinsip ini penting karena banyak praktik-praktik penyiaran televisi yang mendistorsi realitas, memaksakan ilusi semu kepada pemirsa.

Banyak tayangan (terutama iklan, sinetron, berita-berita selebritis) yang bersifat manipulatif dan tunduk pada kepentingan bisnis. Kedua: memuat etika religius. Ada beberapa siaran-siaran televisi khususnya yang berbau hiburan dan iklan justru “mendakwahkan” kemungkaran dan bahkan (maaf) beberapa tayangan yang dibumbui keagamaan yang kalau kita tidak hati-hati justru terjebak seolah-olah agama hanya untuk mengusir setan, dipakai kalau sedang sedih, duka, terkena musibah. Ini bahaya, karena sangat mendistorsi fungsi agama yang kaafah, yang mengatur segala kehidupan manusia.

Ketiga: memuat etika budaya bangsa. Apabila kita tidak mau kehilangan identitas nasional sebagai bangsa yang beradap. Bangsa yang punya kebudayaan sendiri yang luhur, maka sudah selayaknyalah budaya pribumi lebih mengemuka daripada budaya Amerika ( Barat). Fenomena homogenisasi budaya barat adalah bukti ketidakmampuan “raja” televisi untuk mengarahkan transformasi budaya bangsa kepada tatanan yang lebih sesuai dengan “alam” budaya Indonesia.

Keempat: Dialogis. Dalam mengemas pesan-pesan yang akan disampaikan harus terjadi proses dialogis. Kata Jalaludin Rahmat, “Hubungan komunikasi dengan para pemirsa adalah hubungan Aku-Anda dan bukan hubungan Aku-Obyek”. Proses dialog akan memandang pemirsa sebagai rekan sederajat, saling menghormat, sebaliknya, komunikasi yang satu arah, hanya menganggap pemirsa sebagai “robot”, sebagai objek yang bias dijejali dan diperlukan untuk meng-iya-kan nilai-nilai yang dipromosikan. Jangan salahkan masyarakat kalau mereka bereaksi keras, karena hak-hak, harga diri mereka tidak dihargai. (11)

- Akhmad Samsul Ulum, dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Pekalongan

tentang blog

Januari 11, 2009

Blogger
Siapa sih para Blogger di Internet ini? Rebecca Blood pada Blog-nya Rebecca’s Pocket mengatakan bahwa para Blogger mulanya adalah mereka yang telah mengajarkan diri mereka sendiri HTML karena mereka menyenanginya, atau mereka yang setelah seharian bekerja di kantor dot.com mereka, dan kemudian menyisakan waktu luang beberapa jam setiap harinya untuk melakukan web surfing dan memasang hasilnya pada Blog mereka. Mereka adalah apa yang ia sebut orang-orang yang antusias pada web. “These were web enthusiast.” tulisnya. Evan Williams, pendiri Blogger.com berpendapat, “Mayoritas Blogger adalah anak-anak muda atau mahasiswa. Dan banyak diantara mereka yang menggunakannya untuk berkomunikasi dengan teman-temannya.”.

Setiap orang tentu saja dapat membuat Blog-nya masing-masing, tapi seperti yang dikatakan Evan, Blogger saat ini kebanyakan terdiri dari para penulis diary muda yang dinamis, offbeat dan punya opini untuk segala hal. Dalam kata lain mereka adalah generasi yang tidak takut berpendapat dan mengungkapkan pendapat mereka.

Lalu apa gunanya membuat Blog? Apa yang mungkin didapatkan oleh seorang Blogger dalam usaha mengurus Blognya? Rabecca Blood menulis bahwa setelah ia membuat Blog-nya ada dua efek samping yang terjadi yang tidak ia perkirakan sebelumnya. Pertama ia menemukan kembali minatnya semenjak ia mulai membuat Blog. Dan hal kedua yang lebih penting, ia mulai lebih menghargai cara pandangnya sendiri.

Ketika setiap harinya ia mengupdate Blog-nya ia mulai mempertimbangkan opini dan ide-idenya dengan lebih hati-hati dan ia mulai merasakan bahwa perspektifnya adalah unik dan penting untuk disuarakan.

Ketika seorang blogger menuliskan apa yang ada di pikirannya, maka ia akan sering berkonfrontasi dengan pikiran-pikiran dan opininya sendiri. Menulis Blog, atau Blogging, setiap hari akan membuat Blogger menjadi penulis yang lebih percaya diri. Dengan terbiasa mengekspresikan pikirannya pada Blog-nya, seorang Blogger dapat dengan lebih baik mengartikulasikan opininya. Blog bahkan dapat menjadi semacam terapi jiwa.

Tentu saja tidak semua orang adalah seorang Natural-Born Blogger dan dapat memproduksi Blog yang menarik. Di luar sana ada banyak Blogger yang merasa perlu mendokumentasikan diri setiap kali ia bersin, atau anak-anak muda yang menuliskan “Saya bosan” atau “School Sucks!” setiap tiga jam sekali. Amy Jo Kim seorang konsultan dan pengarang buku “Community Building on the Web: Secret Strategies for Succesful Online Communities”, menulis bahwa diperlukan beberapa syarat dasar khusus untuk menjadi seorang Blogger, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri, keinginan untuk berkomunikasi dengan orang banyak dan minat pribadi pada “keterusterangan”.

Blog dengan caranya sendiri sepertinya membuat hidup, pikiran, opini dan kegiatan Bloggernya lebih mempunyai tujuan dan lebih teratur.

Komunitas Blog dan Budaya Digital
Sejalan dengan kepribadian sebuah Blog, si Blogger atau editor dari sebuah Blog biasanya menerima pula kontribusi-kontribusi link unik dari para penikmat Blog-nya. Beberapa website Blog juga menerima feedback terhadap opini dan komentar dari link suatu artikel atau suatu isu yang dimuat. Blog karenanya pula bersifat interaktif dan membentuk komunitas-komunitas para Blogger yang saling me-link-kan Blog mereka satu sama lain.

Para Blogger diwakili oleh Blog mereka mengekspresikan persahabatan, permusuhan dan seringkali melakukan perdebatan yang mereka muat dalam Blog mereka masing-masing yang kemudian mereka link-an pada opini awal yang mereka komentari. Sebuah percakapan dapat berkembang antara 3 hingga 4 Blog sekaligus sambil merujuk pada jawaban mereka di Blog lain. Kelompok pemujaan pada pribadi Blog tertentu bermunculan, beberapa nama Blogger muncul dan muncul kembali pada update harian Blog seseorang yang diidolakannya, atau nama tersebut muncul pada daftar Blog lainnya yang Blogger itu ikuti.

Blog adalah budaya digital tersendiri dan komunitas elektroniknya bertebaran di internet dan dengan sedemikian banyak Blog di Internet yang selalu mencari website-website yang menarik maka Blog menjadi unik. Seperti yang dituliskan Cameron Barret bahwa Blog saat ini adalah indikator akurat tentang apa yang sedang terjadi di Internet dan di dalam komunitas web. “Blog adalah simbol dari apa yang hebat tentang Internet.” tulisnya.

Keinteraktifan adalah hal lain yang didapatkan dari Blog. Internet bukan saja memungkinkan para Blogger memberikan opini dan komentar mereka tentang suatu isu, tapi juga memungkinkan para pembaca Blog menuliskan opininya pula tentang opini yang ia baca. Pro, kontra, link, tambahan informasi, fakta baru, semuanya kemudian terkandung dalam satu situs Blog besar. Jon Katz dalam tulisannya di Slashdot, Here Come The Weblog, May 1999, menggambarkan Blog sebagai rangkaian evolusi menuju “New Media”. Blog berhasil mendemostrasikan banyak hal tentang budaya interaktif yang disukai orang, terutama anak-anak muda, tulisnya.

Salah satu Blog yang terkenal keinteraktifannya adalah Slashdot yang terkenal dengan semboyannya “News for Nerds. Stuff that Matters” yang dikelola oleh beberapa moderator. Di Slashdot satu opini menghasilkan sekian banyak lagi komentar pro atau kontra yang didukung dengan link yang mereka kontribusikan.

Salah satu Community Blog yang perlu dikunjungi pula adalah MetaFilter. Jika banyak Blog lebih bersifat personal, dikendalikan dan ditulis oleh satu orang, atau mencerminkan pribadi satu seseorang, maka katagori Community Blog, seperti MetaFilter hidup dari kontribusi banyak orang dimana setiap harinya para blogger ini sama-sama mengisi MetaFilter dengan link-link mereka dimana mereka menuliskan komentar-komentar mereka pula di dalamnya. Saat ini ada 13511 anggota aktif di MetaFilter, dimana setiap link yang didonasikan ke MetaFilter tentu saja kemudian bisa dikomentari oleh blogger lainnya lagi. Interaksi adalah salah satu daya tarik kuat dari Blog.

Keinteraktifan Blog adalah salah satu faktor yang menunjang kepopulerannya. Media konvensional yang bersifat satu arah berubah bentuk menjadi tempat dimana suara semua orang mendapat tempat, walau belum tentu berharga. Blog memiliki kebalikan struktur dari media konvensional yang bersifat top-down, membosankan dan arogan, kata Jon Katz. Blog juga adalah contoh tepat evolusi komunitas eleltronik dan kemampuan orang yang secara online membuat media yang mereka kostumisasi sendiri, Jon Katz meneruskan. Media yang dikustomisasi sendiri yang dimaksud, adalah media yang lepas dari kecurigaan media sebagai corong korporasi besar. Blog kemungkinan besar adalah masa depan media yang kita saksikan sekarang.

Cameron Barret mengatakan hal yang sama, bahwa “Big Idea” dari Internet adalah kekuatan informasi yang terdistribusi dan jurnalisme gaya Blog adalah jurnalisme media online dalam tingkat yang lebih tinggi. Rebecca Blood menulis: Dengan komentar-komentar tak kenal takut dan sarkasme mereka Blogger mengingatkan kita betapa seringkali media konvensional terinfeksi oleh vested-interest dalam membuat berita.

Blog dengan kecenderungannya memilih-milih berita dan artikel serta website sesuai dengan preference personal Blogger-nya, membuat seolah The Web telah di-_filter_, The Web telah dijelajahi terdahulu (_pre-surfed_) oleh para Blogger dan kita tinggal menikmati apa yang telah disediakan para Blogger pada Blog yang kita sukai. Para Blogger memilihkan link pada website dan berita yang paling aneh, paling bodoh, hingga paling lengkap atau tidak lengkap dari Web. Jon Katz menyebut Blog, Filtered News. Blog sebagai saringan The Web telah menyelamatkan kita dari kekacauan atau kesentralan informasi online yang sekarang terjadi di Internet.

Scott Rosenberg dalam kolomnya di Salon menuliskan pendapatnya tentang Blog dan para Blogger. Blogger, tulisnya, telah menemukan ceruk (_niche_) baru yang subur dalam lingkungan informasi Web. Mereka memenuhi ramalan para visionaris internet terhadap munculnya jenis baru para jurnalis online, tetapi bedanya daripada mencari berita di dunia nyata, mereka menyiangi internet untuk mendapatkan berita.

Blogger menurut sifat dasarnya bukanlah reporter, mereka berperan sebagai editor dalam Blognya masing-masing dan dalam sebuah dunia dengan budaya media yang telah jenuh, Blog menjadi suara-suara alternatif yang menyuarakan bunyi independen dalam setiap ulasannya. Blog bukanlah obat mujarab untuk budaya yang telah jenuh dengan media, tapi mudah-mudahan Blog adalah salah satu peredanya tulis Rabecca Blood.

Memiliki Blog sendiri dan Blog Indonesia
Cara paling direkomendasikan untuk memiliki Blog sendiri adalah dengan mendaftarkan diri kamu di Blogger.com, belajar sedikit tutorial HTML dasar dan Here you go! Kamu sudah memiliki Blog kamu sendiri. Blogger.com tidak membatasi jumlah Blog yang bisa kamu miliki, tidak membatasi kapasitas panjang dari Blog kamu. Kamu bisa memilih desain interface Blog kamu dari template yang telah disediakan, atau jika kamu sudah menguasai HTML kamu bisa merancangnya sendiri atau memodifikasinya. Blog kamu bisa ditempatkan dilayanan website gratis seperti Tripod atau Geocities atau bisa juga ditempatkan di server yang disediakan Blogger.com.

Kamu juga bisa mendapatkan tutorial-tutorial dan bertanya tentang Blog pada forum diskusi yang disediakan oleh Blogger.com. Cara mengisi Blog kamu adalah dengan masuk ke Blogger.com dan menuliskan di area yang sudah disediakan, atau menggunakan fasilitas yang diberikan oleh Blogger.com, dimana dengan satu klik kamu dapat membuat link ke website yang sedang kamu lihat dan kamu dapat memasukkan komentar kamu. Tapi yang paling penting tentu siapkan diri kamu buat mengorganisir lagi opini dan pendapat-pendapat kamu dan latih otot kritis yang kamu miliki.

Apa yang membuat suatu komentar adalah komentar yang bagus? Weblog Resource memberikan beberapa tips. Secara ideal, komentar kamu perlu menjelaskan tentang link yang kamu buat dan kenapa kamu memasang link tersebut. Sebuah komentar tidak cukup hanya berkata link ini cool misalnya, komentar seperti ini tidak berguna buat pengunjung Blog kamu. Tips singkat yang paling berguna? Jadilah diri kamu sendiri, dan mulailah menulisi Blog yang kamu miliki.

Apa ada para Blogger indonesia? Yap.. Website yang mendaftar para Blogger Indonesia yaitu Indo.Blogs. Kriteria satu-satunya agar Blog kamu terdaftar pada Indo.Blogs hanyalah berkebangsaan Indonesia, tanpa memandang secara geografis lokasi kamu berada.

Indo.Blogs mendaftar sekitar 40-an Blog yang ada, keseluruhan secara kasar ada sekitar 100-an Blogger Indonesia dengan personalitinya masing-masing. Kebanyakan mahasiswa atau berprofesi di bidang IT dan Web Desain. Ada yang keseluruhan memakai Bahasa Inggris sebagian lagi memakai Bahasa Indonesia dan sebagian lagi mencampur bahasa yang digunakan. Sayangnya banyak juga yang tidak terupdate setiap hari. Jarak antara satu update dengan yang lain bisa satu bulan lamanya dan kebanyakan lebih berupa jurnal pribadi daripada Blog yang banyak memuat link. Tapi kebanyakan memiliki desain Blog yang menarik dan sederhana, dan Blogger Indonesia tidak lupa mencantumkan sahabat-sahabat Blog mereka dengan rapih seperti yang biasa dilakukan oleh Blogger luar negri.

Lalu apakah ada Community Blog Indonesia? Yupe ada. Silahkan arahkah browser kita ke MSN.OR.ID. Para Blogger disini disebut “celetukers” karena sifatnya dimana masing-masing Blogger memang menyeletukan sesuatu yang kemudian mengisi website ini.

Saat ini ada 64 celetukers dengan masing-masing link ke Blog mereka. Website ini bermula dari mereka yg dulu sering chatting di server microsoft comic chat (irc.msn.com) dan setelah server tersebut kemudian ditutup, maka para penghuninya kemudian mendirikan website ini.

Lebih jauh lagi tentang Komunitas Blogger di Indonesia? Berarti kamu harus gabung sama mailing listnya. Bloggerians adalah mailing list diskusi terbuka untuk komunitas para Blogger Indonesia yang terbentuk sejak bulan Maret 2001 dan saat ini dianggotai oleh 45 anggota.

Mayoritas Blogger Indonesia masih berasal dari kalangan website desainer atau system administrator, atau mereka yang pekerjaannya memang membuat mereka akrab dengan dunia membuat website. Walau begitu, diskusi menarik sering pula terjadi disitu.

Generasi Kedua
Pada tulisannya di Star Telegram, Frances Katz (ada hubungan dengan Jon Katz?) menulis bahwa Blog adalah generasi kedua dari Home Page Pribadi. Perbedaan utama antara Home Page Pribadi dan Blog yaitu, Home Page Pribadi adalah tempat dimana kamu menempatkan foto keluarga, foto kamu dan kemudian mendistribusikan informasi pada lingkaran kecil teman-teman dan keluarga. Sedang Blog dirancang untuk “pengunjung”. Blog memiliki suara spesifik dan kepribadian. Blog karenanya adalah kepanjangan interaktif dari pembuatnya.

Apakah Blog memang suara murni media baru seperti yang diramalkan? Atau hanya sekedar trend digital? Dan akan bertahan lamakah Blog-Blog di Internet? Tentu saja ini jawaban yang perlu dijawab oleh para Blogger sendiri. Banyak orang saat ini memiliki idealisme terhadap Blog sebagai sebuah konsep desentralisasi informasi yang mengembalikan berita kembali di tangan para penggunanya dan tidak dimonopoli lagi oleh korporasi besar atau perusahaan media. Tentu saja masih sekian tahun lagi kita melihat apakah konsep yang bermula dari budaya dan komunitas ini bisa terjadi atau tidak. Kritik terhadap ledakan jumlah Blog yang sekarang terjadi pun sudah banyak disuarakan. Berapa murni lagi suara Blog bisa bertahan? Perdebatan tentang hal ini terus terjadi di Web. Untuk saat ini, buat kamu yang berminat hanya satu saran, BLOG ON!

Sumber sejarah Blog dapat dibaca di:
An Incomplete Annotated History of Weblogs
Weblogs a history and perspective
FAQ Weblog resources.

BLOG

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Blog merupakan singkatan dari “web log” adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan (yang dimuat sebagai posting) pada sebuah halaman web umum. Tulisan-tulisan ini seringkali dimuat dalam urut terbalik (isi terbaru dahulu baru kemudian diikuti isi yang lebih lama), meskipun tidak selamanya demikian. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet sesuai dengan topik dan tujuan dari si pengguna blog tersebut.

Sejarah

Media blog pertama kali dipopulerkan oleh Blogger.com, yang dimiliki oleh PyraLab sebelum akhirnya PyraLab diakuisi oleh Google.Com pada akhir tahun 2002 yang lalu. Semenjak itu, banyak terdapat aplikasi-aplikasi yang bersifat sumber terbuka yang diperuntukkan kepada perkembangan para penulis blog tersebut.

Blog mempunyai fungsi yang sangat beragam, dari sebuah catatan harian, media publikasi dalam sebuah kampanye politik, sampai dengan program-program media dan perusahaan-perusahaan. Sebagian blog dipelihara oleh seorang penulis tunggal, sementara sebagian lainnya oleh beberapa penulis. Banyak juga weblog yang memiliki fasilitas interaksi dengan para pengunjungnya, yang dapat memperkenankan para pengunjungnya untuk meninggalkan komentar atas isi dari tulisan yang dipublikasikan, namun demikian ada juga yang yang sebaliknya atau yang bersifat non-interaktif.

Situs-situs web yang saling berkaitan berkat weblog, atau secara total merupakan kumpulan weblog sering disebut sebagai blogosphere. Bilamana sebuah kumpulan gelombang aktivitas, informasi dan opini yang sangat besar berulang kali muncul untuk beberapa subyek atau sangat kontroversial terjadi dalam blogosphere, maka hal itu sering disebut sebagai blogstorm atau badai blog.

Komunitas Blogger

Komunitas blogger adalah sebuah ikatan yang terbentuk dari para blogger berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu, seperti kesamaan asal daerah, kesamaan kampus, kesamaan hobi, dan sebagainya. Para blogger yang tergabung dalam komunitas-komunitas blogger tersebut biasanya sering mengadakan kegiatan-kegiatan bersama-sama seperti kopi darat.

Untuk bisa bergabung di komunitas blogger, biasanya ada semacam syarat atau aturan yang harus dipenuhi untuk bisa masuk di komunitas tersebut, misalkan berasal dari daerah tertentu.

Beberapa jenis komunitas blogger adalah Komunitas Blogger Daerah, yaitu Komunitas Blogger berdasarkan kedaerahan atau wilayah tertentu, Komunitas Blogger Non-Daerah, yang biasanya terbentuk karena kesamaan hobi atau yang lainnya, dan Komunitas Blogger Kampus.

Jenis-jenis blog

  • Blog politik: Tentang berita, politik, aktivis, dan semua persoalan berbasis blog (Seperti kampanye).
  • Blog pribadi: Disebut juga buku harian online yang berisikan tentang pengalaman keseharian seseorang, keluhan, puisi atau syair, gagasan jahat, dan perbincangan teman.
  • Blog bertopik: Blog yang membahas tentang sesuatu, dan fokus pada bahasan tertentu
  • Blog kesehatan: Lebih spesifik tentang kesehatan. Blog kesehatan kebanyakan berisi tentang keluhan pasien, berita kesehatan terbaru, keterangan-ketarangan tentang kesehatan, dll.
  • Blog sastra: Lebih dikenal sebagai litblog (Literary blog).
  • Blog perjalanan: Fokus pada bahasan cerita perjalanan yang menceritakan keterangan-keterangan tentang perjalanan/traveling.
  • Blog riset: Persoalan tentang akademis seperti berita riset terbaru.
  • Blog hukum: Persoalan tentang hukum atau urusan hukum; disebut juga dengan blawgs (Blog Laws).
  • Blog media: Berfokus pada bahasan kebohongan atau ketidakkonsistensi media massa; biasanya hanya untuk koran atau jaringan televisi
  • Blog agama: Membahas tentang agama
  • Blog pendidikan: Biasanya ditulis oleh pelajar atau guru.
  • Blog kebersamaan: Topik lebih spesifik ditulis oleh kelompok tertentu.
  • Blog petunjuk (directory): Berisi ratusan link halaman website.
  • Blog bisnis: Digunakan oleh pegawai atau wirausahawan untuk kegiatan promosi bisnis mereka
  • Blog pengejawantahan: Fokus tentang objek diluar manusia; seperti anjing
  • Blog pengganggu (spam): Digunakan untuk promosi bisnis affiliate; juga dikenal sebagai splogs (Spam Blog)

Budaya populer

Ngeblog (istilah bahasa Indonesia untuk blogging) harus dilakukan hampir setiap waktu untuk mengetahui eksistensi dari pemilik blog. Juga untuk mengetahui sejauh mana blog dirawat (mengganti template) atau menambah artikel. Sekarang ada lebih 10 juta blog yang bisa ditemukan di Internet.[rujukan?] Dan masih bisa berkembang lagi, karena saat ini ada banyak sekali software, tool, dan aplikasi Internet lain yang mempermudah para blogger (sebutan pemilik blog) untuk merawat blognya.

Resiko kejahatan

Karena blog sering digunakan untuk menulis aktivitas sehari-hari yang terjadi pada penulisnya, ataupun merefleksikan pandangan-pandangan penulisnya tentang berbagai macam topik yang terjadi dan untuk berbagi informasi – blog menjadi sumber informasi bagi para hacker, pencuri identitas, mata-mata, dan lain sebagainya. Banyak berkas-berkas rahasia dan penulisan isu sensitif ditemukan dalam blog-blog. Hal ini berakibat dipecatnya seseorang dari pekerjaannya, diblokir aksesnya, didenda, dan bahkan ditangkap.

CARA MEMBUAT BLOG

Langkah 1: Daftar Google

Daftarkan Diri Anda di Google

Lho koq? Koq di Google? Katanya mau ngajarin bikin blog di blogger.com, koq malah di Google? Tidak salah, karena untuk masuk ke blogger, Anda harus memiliki login google.com.

Silahkan kunjungi http://www.blogger.com. Anda akan mendapatkan halaman seperti pada gambar dibawah.

Jika Anda sudah memiliki login di Google, Anda tinggal login, maka Anda akan masuk ke Control Panel atau Panel Kontrol.

Oh ya, Anda bisa memilih bahasa, apakah Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Untuk kali ini saya anggap Anda belum memiliki login Google.

Klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA.

Sejauh ini sangat mudah dan akan terus mudah.

Halaman Pertama

Langkah 2: Daftar Blog

Lengkapi Pendaftaran Anda

Setelah Anda klik tanda panah besar yang bertuliskan CIPTAKAN BLOG ANDA, maka akan muncul formulir seperti yang ada pada gambar dibawah ini.

Proses ini akan menciptakan account Google yang dapat Anda gunakan pada layanan Google lainnya. Jika Anda sudah memiliki sebuah account Google mungkn dari Gmail, Google Groups, atau Orkut.

Satu account Google bisa digunakan untuk mengakses semua fasilitas yang disediakan oleh Google.

Jika Anda sudah memiliki accout google, Anda bisa langsung login (masuk). Untuk login ke Google, Anda harus login dengan menggunakan alamat email.

Silahkan lengkapi.

1. Alamat email yang Anda masukan harus sudah ada sebelumnya. Anda akan dikirim konfirmasi ke email tersebut. Jika Anda menggunakan email palsu atau email yang baru rencana akan dibuat, maka pendaftaran bisa gagal. Anda tidak perlu menggunakan email gmail.com. Email apa saja bisa.

2. Lengkapi data yang lainnya.

3. Tandai “Saya menerima Persyaratan dan Layanan” sebagai bukti bahwa Anda setuju. BTW Anda sudah membacanya?

Setelah lengkap, klik tanda panah yang bertuliskan lanjutkan.

Form Pendaftaran 1

Form Pendaftaran 2

Langkah 3: Membuat Blog

Memilih Nama Blog dan URL Blog

Jika Anda berhasil, Anda akan dibawa ke halaman seperti pada gambar dibawah. Jika gagal? Gagal biasanya karena verifikasi kata Anda salah. Itu wajar karena sering kali verifikasi kata sulit dibaca. Yang sabar saja, ulangi sampai benar. Saya sendiri sampai mengulang 3X.

Setelah Anda berhasil mendaftar, Anda akan dibawa ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah. Sekarang Anda mulai membuat blog dengan mengisi nama dan alamat blog Anda.

Sebagai contoh, saya menamakan blog tersebut dengan nama Hasna Zahidah. Sssst, jangan curiga, Hasna adalah putri saya. Saya memilih alamat blog dengan alamat http://hasna-zahidah.blogspot.com
sebagai alaternatif, bisa juga http://hasnazahidah.blogspot.com.

Jika Anda membuat lensa dengan tujuan mempromosikan produk Anda atau produk afiliasi, maka dalam memilih nama, harus berisi nama produk atau jasa yang akan Anda tawarkan. Misalnya jika Anda ingin menjual ebook saya, Anda bisa memilih kata kunci seperti motivasi, sukses, berpikir positif, dan kata-kata kunci lainnya yang sesuai.

Anda juga bisa meneliti kata kunci yang paling banyak dicari orang (tentu harus berhubungan dengan produk yang Anda jual) di
https://adwords.google.com/select/KeywordToolExternal

Anda bisa mengecek ketersidaan alamat blog yang Anda pilih. Jika tersedia bisa Anda lanjutkan. Jika tidak tersedia, maka Anda harus kreatif mencari nama lain atau memodifikasi alamat yang sudah ada, misalnya ditambahkan abc, xzy, 101, dan bisa juga dengan menyisipkan nama Anda.

Lanjutkan dengan klik tanda panah bertuliskan LANJUTKAN.

Proses Pembuatan Blog

Langkah ke 4 Blog Template

Pilih desain yang sesuai dengan selera Anda.

Berhasil? Tentu saja berhasil, memang mudah koq. Jika berhasil, Anda akan diarahkan ke halaman seperti yang ada pada gambar dibawah.

Pilihlah tema yang sesuai dengan selera Anda. Jika tidak ada yang sesui dengan selera Anda, jangan khawatir, nanti masih banyak pilihan tema yang bisa Anda install sendiri. Sekarang pilih saja tema agar proses pembuatan blog bisa diselesaikan. Anda bisa preview tema dengan klik gambarnya.

Untuk Memilih tema Anda klik (tandai) bulatannya o seperti pada gambar dibawah. Lihat yang saya tunjuk dengan panah merah buatan saya.

Setelah itu Anda klik tanda panah yang bertuliskan LANJUTKAN

Memeilih tema,membuat blog selesai.

CARA MEMBUAT BLOG SECARA CEPAT UDAH DAN PRAKTIS.

Cara membuat blog dengan mudah dan cepat, silahkan baca dengan benar pasti anda semua bisa mempraktekannya sekarang juga Blog adalah kependekan dari webblog. Blog bergunasekali sebagai sarana informasi baik untuk keperluan pribadi, bisnis, hobby dan lain sebagainya. Baiklah, tanpa harus bertele tele, saya akan langsung mengajarkan kepada anda untuk membuat sebuah blog GRATISAN dari www.blogger.com

  • LANGKAH KE-1 (GETTING STARTED)

Silahkan anda kunjungi website www2.blogger.com

  • LANGKAH KE-2 (CREATE AN ACCOUNT)

Setelah page terbuka, silahkan anda klik CREATE AN ACCOUNT setelah anda klik, maka akan muncul form untuk mengisikan nama dan password. Silahkan isi dan anda harus selalu ingat username dan password yang anda isikan. Jangan lupa untuk menceklist Term of service agreement. Kemudian klik tombol panah “Continue” untuk melanjutkan ke langkah ke-3

  • LANGKAH KE-3 (NAME YOUR BLOG)

Bagian ini sangat penting, karena nama dari blog anda nantinya akan menjadi sebuah keyword. TIPS: agar blog anda mudah terindex oleh search engine(mesin pencari), maka alangkah lebih bagusnya jika anda membuat sebuah kesamaan antara addres dan name dari blog anda! Sekarang klik tombol panah ORANGE”Continue” untuk melanjutkan ke langkah ke-4

  • LANGKAH KE-4 (CHOOSE YOUR BLOG TEMLATE)

Sekarang anda haya tinggal selangkah lagi untuk mempunyai webblog buatan sendiri!!! Disini anda ditujukan untuk memilih warna dan bentuk dari web anda. Silahkan pilih sesuai dengan topic dan selera anda. OK jika anda sudah selesai memilih template, sekarang kita akan lanjut ke langkah berikutnya. Sekarang klik tombol panah ORANGE”Continue” untuk melanjutkan ke langkah ke-5

  • LANGKAH KE-5 (GENERATE YOUR BLOG)

Sekarang blogger akan menciptakan blog anda. Setelah blog selesai dibuat, maka di browser anda akan ada tulisan “Your Blog Has Beeb Created” Klik start Posting untuk untuk membuat artikel/tulisan pertamamu. Sekarang Isikan Judul artikel kamu pada kolom tile, dan tulis isi dari artikelmu di bawahnya!

FUNGSI FUNGSI BLOG

Tommy, Wednesday, November 26, 2008

FUNGSI FUNGSI BLOG

Blog adalah suatu media online yang biasanya digunakan untuk menulis hal hal pribadi dan informasi tapi seiring dengan perkembangannya, fungsi blog pun mulai berubah, kini blog bisa digunakan untuk berbagai hal , dari hal hal yang sifatnya non komersil hingga yang sifatnya komersil.

Nah pada tulisan ini saya akan mencoba untuk menjelaskan fungsi fungsi blog berdasarkan apa yang saya tahu selama saya mengenal blog.Mungkin artikel ini ga begitu menarik tapi semoga saja bisa menjadi masukan atau paradigma baru tentang blog.

Fungsi fungsi tersebut adalah:

1.Blog digunakan untuk menulis diary
Banyak orang menggunakan blog sebagai diary online , dimana mereka menulis tentang hal hal yang bersifat pribadi, entah itu tentang kisah cinta mereka, Pengalaman,atau bahkan masalah rumah tangga.

2.Blog digunakan untuk belajar menjadi penulis
Beberapa orang menggunakan blog sebagai sarana untuk belajar menjadi penulis, Tidak sedikit orang orang yang telah sukses menjadi penulis yang berawal dari blog bahkan karena tulisannya ada yang ditawari untuk membuat film.

3.Blog digunakan sebagai media kampanye
Di singapura ada seorang blogger yang berhasil masuk ke parlemen karena menggunakan blog sebagai media kampanye

4.Blog digunakan untuk Tutorial
Blog dengan jenis ini banyak dicari orang ,apalagi tutorialnya mengenai cara cara mengutak atik blog, hampir setiap hari dikunjungi orang biasanya sih oleh pemula.

5.Blog digunakan untuk promosi bisnis
Jika anda mempunyai sebuah usaha entah itu offline maupun online saya rasa blog adalah sarana yang tepat untuk mempromosikannya,selain hemat biaya isinya pun bisa diganti ganti

6.Blog digunakan sebagai sumber penghasilan
Banyak sekali cara cara untuk membuat blog anda menjadi sumber penghasilan bagi anda, mulai dari yang gratisan hingga yang berbayar.

DAMPAK NGEBLOG DI INDONESIA

Dampak Ngeblog di Indonesia? fritz say: ..woww..!! kalimat yang susah untuk di definisikan artinya.. karena jika membicarakan masalah dampak nge-Blog di Indonesia sering menimbulkan pro dan kontra [berdasarkan apa yang saya baca di media, entah benar atau tidak]. salah satu contoh kontra-nya.. masih ingat kan dengan kalimat-kalimat yang di lontarkan oleh bung Roy Suryo? “Anggap saja blog seperti orang membuang sampah”“Blog tidak bertanggung jawab, bahkan blogger itu tukang tipu”. -cut- tetapi di lain pihak nge-Blog juga bisa menghasilkan nilai positif. banyak hal-hal yang bisa di dapatkan melalui blog, seperti selalu mencantumkan postingan baik di blog pribadi ataupun melalui jejak yang tertinggal di blog orang lain yakni Blog merupakakan ajang silahturahmi. bukan hanya sampai disitu, kalau kita melihat dari sisi finasial, blog [nge-blog] bisa merupakan pundi-pundi rupiah [ex: google addsense], etc..
di dunia blog berbagai macam bentuk dan wacananya, yang berseliweran dari individu yang sering menuangkan hasil olah pikir mereka, entah itu bersifat kontradiksi, personal insult, provokator dan sejenisnya atau sebaliknya yang bersifat enjoy, enak dibaca bahkan menimbulkan inspirasi bagi mereka yang membaca tulisan tersebut.

Blog bukan hanya sekedar tempat posting kalimat, tetapi di dunia ini para blogger bisa melakukan aksi sosial, sebuah tindakan dengan nilai yang sangat agung dalam mengimplementasikan apa yang mampu dilakukan terhadap individu-individu lain yang memerlukan live support.
Di posisi ini, jika kita membandingan sisi yang di timbulkan oleh dunia blogger di indonesia, saya akan selalu berada di posisi pro untuk berdiri dan menyatakan sejauh mana dampak nge-Blog di Indonesia. Reason??… selalu ada alasan untuk menyatakan hal tersebut.. hingga saat ini, selama menapaki dunia blog, banyak hal-hal inspiratif yang mungkin kita temukan dan berkembang di dalam diri anda sehingga membuat pola pikir menjadi lebih inspiratif dan bisa menuangkan suatu inspirasi yang membuat pembaca [blogger] lain merasa enjoy, entah berupa postingan yang berisikan untaian kalimat ataupun deretan image yang membuat alam sadar kita merasa lebih fresh.

So, dari segi mana kita melihat dampak nge-blog saat ini?? … tidak ada skala yang bisa di tetapkan untuk di gunakan, tetapi kembali ke pola pikir kita untuk melihat dan bagaimana kita mencermati aksi dan tindakan para blogger indonesia saat ini..
Bravo blogger indonesia…!!!

BLOG SEBAGAI LIFESTYLE

aRuL
Asruldin Azis

Blog sebagai lifestyle

Seperti halnyaketika boomingnya friendster beberapa tahun lalu, sebenarnya blog sudah banyak sejak dulu tetapi melihat keberadaan blog, ternyata sudah menjadi lifestyle bagi semua orang untuk berbagai kalangan.

Kita diingatkan dulu friendster, terungkapnya pembunuhan seorang gadis yang dibunuh oleh pacarnya dan dapat dilacak lewat friendster.

belum lagi orang biasa-biasa aja bisa terhubungan dengan artis yang bayarannya milyaran rupiah karena friendster. Demikian pula juga dengan blog, bisa menghubungkan semua orang dan bisa memberikan komentar-komentar terhadap tulisan.

Sekarang foto dan profil tidak lagi menjadi hal yangcari dalam berinternet tetapi tulisan yang menyajikan hal yang menarik, lucu, bermakna, berbobot, dan terlebih-lebih bisa bikin terheran-heran.

Demikian adanya blog, semua blog sudah menjadi milik semua kalangan, baik itu dosen, artis, mahasiswa, karyawan, direktur, pejabat, menteri, dan semuanya.

Sudah sepantasnya blog menjadi posisi yang terbaik dalam hati masyarakat sebagai lifestyle atau gaya hidup.

Tetapi kadang lifestyle itu bertahan untuk beberapa saat tidak abadi. tidak seperti koran, walau ada media yang lebih visual tetapi koran tetap memiliki value yang abadi.

Kita tunggu saja, apakah blog menjadi lifestyle sesaat, ataukah akan menjadi eksis seperti surat kabar. We’ll see that….

Teknologi Media

Januari 4, 2009

Tak seorang pun yang mempelajari media dapat menghindari pertanyaan tentang teknologi. Di dalam problem umum tentang sifat alami dan akibat mediasi sosial kita dapat mengenali tiga jenis mediasi yang berbeda. Ada mediasi oleh agen-agen manusia lain, problem yang dimunculkan modernitas di atas semua oleh pembagian kerja sosial dan yang saya periksa terkait dengan para mediator di Bab 5, dan sebagai sesuatu yang berkenaan dengan problem yang lebih umum dari perwakilan politik di Bab 8. Yang kedua, ada mediasi oleh sistem perwakilan simbolik, implikasi yang saya periksa di Bab 7. Akhirnya ada mediasi, baik antara manusia dan alam, dan antara manusia itu sendiri, dengan peralatan. Bentuk ketiga mediasi ini telah menjadi fokus sentral tradisi pemikiran sosial yang melihat pekerja (SDM) sebagai karakteristik penentu dari spesies manusia, dan yang melihat perkembangan peralatan tinimbang kemampuan berbicara sebagai pembeda antara binatang dan umat manusia, dan yang lalu menjadi pondasi dari kebudayaan manusia.

Dari perspektif ini, untuk mempelajari sejarah dan konsekuensi sosial perkembangan sistem dan proses komunikasi sosial, saya memanggil media adalah untuk mempelajari perkembangan dan penyebaran teknologi produksi, distribusi dan konsumsi simbol-simbol. Sesungguhnya dalam bahasa sehari-hari, dalam pembagian akademik tentang tenaga kerja, dan dalam pembedaan sektoral antara bisnis, media didefinisikan, dinamai, dan dibedakan satu dari yang lainnya bukan berdasarkan simbol-simbol yang mereka bawa, tetapi berdasarkan letak mereka dalam teknologi produksi dan distribusi. Kemudian kita berbicara dan berfikir tentang media, meneliti media, berinvestasi di dalamnya, mengelola, dan mengatur media dalam pengertian film, rekaman, pers, radio, televisi, dan telekomunikasi. Sebagaimana telah kita lihat ketika memeriksa politik-ekonomi dan pengaturan media di Bab 3, perbedaan antara hal ini meletakkan materi teknologi media. Mereka sebagiannya menjelaskan mengapa medium khusus ini terlihat sebagai sebuah bisnis yang dioperasikan dalam cara yang dilakukannya dan adalah diatur dalam caranya.

Pembebasan dari Alam

Yang menjadi sentral dalam proyek pembebasan modernitas adalah pencarian untuk pembebasan dari rintangan-rintangan yang dipaksakan oleh alam. Umat manusia, sebagai makhluk yang mewujud, secara wajib tertanam di dalam dunia alami. Dan ketertanaman ini mengambil dua bentuk. Di satu sisi umat manusia, untuk kelangsungan hidup fisikalnya adalah tergantung pada interaksi melalui pekerjaan dengan alam dalam pengetian dunia, material-fisikal. Di sisi lain akal manusia dan kesadaran dirinya telah menjadi apa yang kita lihat sebagai insting, dorongan atau gairah-nafsu dari sifat batiniyah kebinatangannya. Kemudian ada dua respon di dalam pemikiran Pencerahan terhadap problem yang dimiliki alam.

Pada awalnya, di Perancis yang luas, dalam fase Pencerahan, yang dikembangkan dari pemikiran teologis, alam dilihat sebagai sangat ramah, sebagai sama-setara dengan kehendak Tuhan, dan manfaat akal adalah untuk memahami alam lahir dan batin sehingga dapat hidup secara harmonis dengan alam. Filsafat alam, atau sains, mengambil tugas theologi dalam menyingkap misteri takdir Tuhan yang dihadirkan oleh alam, ilmu pengetahuan, dan lalu tindakan manusia dalam keserasian (harmoni) dengan alam, telah terhalangi oleh kebodohan dan takhayul – dosa versi baru. Cara berfikir seperti ini kemudian dikembangkan ke dalam tradisi positif dan sains sosial yang diwakili oleh Saint Simon dan Comte yang darinya banyak penelitian kebijakan modern berakar. Inilah cara berfikir tentang alam yang tetap penting ketika memikirkan teknologi, namun dalam suatu pengertian paradoksal. Ini menempatkan versi determinisme teknologis yang melihat teknologi tidak hanya sebagai ekspresi hukum alam, tapi juga sebagai penyempurna yang tak terhindarkan dari nasib manusia, dan lalu melihat perkembangan teknologi yang berlawanan ini sebagai Luddities, dan rintangan konservatif bagi kemajuan umat manusia. Tapi hal ini juga terdapat di balik pemikiran , sebagai contoh dalam gerakan penyelamat lingkungan, banyak orang yang memobilisasi bukti-bukti ilmiah untuk melawan pembangunan/pengembangan teknologi atas dasar bahwa hal ini mengganggu atau menghalangi sesuatu hubungan yang lebih ‘manusiawi’(humane) dan alami antara umat manusia dan lingkungan alaminya dan sifat-sifat batiniahnya (inner natures).

Respon kedua telah melihat pembebasan dari rintangan yang dipaksakan baik oleh alam internal maupun eksternal dengan mengontrol mereka. Kebudayaan manusia dan kebebasan sekarang dilihat sebagai anti-alam. Penerapan akal, sains dan teknologi sebagai produk terbaiknya, sekarang dilihat sebagai rute melarikan diri dari dunia kebutuhan dan menuju ke dunia kebebasan. Bagaimana pun juga, sebagai sebuah kritik terhadap tatanan sosial, ekonomi, dan budaya yang dibangun di atas pondasi revolusi ilmiah dan teknologis ini, apakah dari posisi Romantic atau Dialektika Pencerahan, segera mulai ditunjuk, problemnya adalah bahwa apa yang telah diciptakan itu adalah sebuah alam yang baru. Alam yang baru ini, dalam bagian besar diciptakan dengan menggunakan (mengekang) sains dan teknologi dalam manufaktur-mesin dan lompatan tinggi dalam produktifitas, pembagian kerja yang mendalam, dan perluasan dunia administrasi sosial birokratis yang dihasilkan, telah diletakkan di dalam sebuah tempat sistem dunia baru yang mendominasi manusia dan membatasi kebebasan mereka seefektif alam telah melakukan sebelumnya. Pada saat yang sama alam yang baru ini, jauh dari wujud subjek pandangan investigasi kritis dari penalaran ilmiah, telah dibuat tidak jelas oleh sebuah mitologi baru tentang rasionalisme ilmiah itu sendiri. Inilah inti kritik yang diluncurkan oleh para teoritisi kritis dari Mazhab Frankfurt dan yang menyokong analisis mereka terhadap industri budaya.

Jadi, ada ketegangan dialektikal di dalam wacana filosofis tentang modernitas antara pembebasan dan rintangan, antara agensi dan struktur, antara dunia kehidupan dan dunia sistem, antara manusia dan binatang, budaya dan alam, keraguan dan ilmu pengetahuan, berlanjut dimainkan keluar di atas bidang teknologi. Sebagaimana kita akan memeriksa perdebatan kontemporer tentang teknologi secara umum, dan teknologi media secara khusus, kita perlu mengingat bahwa hal ini adalah hubungan di antara kutub-kutub pemikiran yang merupakan pokoknya.

Determinisme Teknologis dan Masyarakat Informasi

Walaupun ada serangan dari para teoritisi kritis, kaum Romantics dan post-modernist dan dari kecurigaan popular yang tumbuh, sains dan teknologi dan pandangan yang terdeterminasi secara teknologis tentang kemajuan yang terkait dengannya, mempertahankan gengsi yang tinggi dan peredarannya, mungkin secara khusus pada saat ini dalam kaitannya dengan teknologi komunikasi dan informasi, baik pada tingkat popular maupun elite.

Sehingga, sebagaimana telah kita lihat di Bab 2, sebuah pengaruh ekstrem dari cara berfikir tentang sejarah media dan akibat sosialnya dalam pengertian perkembangan yang berturut-turut dari kunci teknologi – penulisan, pencetakan, teknologi informasi – terkait pada sebuah tahapan teori perkembangan masyarakat manusia. Banyak perdebatan kontemporer tentang media memobilisasi sejarah tersebut, dan hanya dapat dipahami sebagai bagian dari perdebatan yang lebih luas tentang teknologi, perkembangan teknologi, dan dunia modern. Perkembangan tentang ekonomi media dan kebijakan atau tentang pengaruh sosial dan kultural dari media adalah pada kenyataannya seringkali berupa perdebatan yang luas tentang teknologi. Apakah perdebatan tersebut berkaitan dengan pengaruh apa yang disebut konvergensi terhadap masa depan industri media dan pengaturannya, atau pertanyaan yang lebih luas lagi tentang watak/sifat-sifat dari apa yang disebut sebagai Masyarakat Informasi, mereka bekerja dengan asumsi-asumsi, sering kali tersirat, tentang bagaimana teknologi menjadi eksistensi dan pengaruhnya, apakah positif atau negatif. Di atas semuanya, pokok yang mendasari perdebatan ini adalah perdebatan seputar determinisme teknologis. Apakah teknologi adalah penggerak utama dalam perubahan sosial, sebuah takdir yang secara sederhana harus diterima dan diadaptasi apakah kita menilai hasilnya positif atau negatif? Contoh dari jenis pemikiran ini adalah menyebar luas. Anda dapat menemukannya baik dalam literatur akademik maupun literatur populer tentang Masyarakat Informasi dan apa yang disebut revolusi informasi dan komunikasi yang mendasari Masyarakat Informasi (sebagai contoh lihatlah Negroponte 1995; Toffler 1980; Bell 1973; dan Castells 1996; untuk kebaikan jika sesuatu dicatat, kritik dari literatur ini lihatlah Webster and Robbins 1986; untuk kritik yang lebih umum terhadap pandangan teknologi komunikasi dan informasi lihatlah Winston 1998). Hal ini dapat ditemukan secara mendalam tertanam di dalam pemikiran regulasi mutakhir dan dalam dokumen kebijakan baik secara nasional di Inggris dan secara internasional. Sebagai contoh dalam dokumen kebijakan dari Laporan Peacock yang mengarahkan ke pengaturan ulang broadcasting di Inggris pada akhir 1980-an, di dalam dokumen dari Oftel tentang pengaruh regulasi konvergensi (Oftel 1995), dan sebagai contoh dalam Laporan Bangemann (European Commission 1994) dan Paper mutakhir EC Green tentang konvergensi (European Commission 1997b). Sesungguhnya saya akan menyarankan bahwa sebuah pengkhidmatan yang penting adalah membaca literatur mutakhir tentang kebijakan media, masa depan industri media dan masyarakat informasi dari sudut pandang (perspektif) ini. Apakah sebuah argumen determinis secara teknologikal diletakkan di depan dan jika ya, dalam bentuk apa?

Teknologi atau Teknologis

Sebuah problem dengan versi tertentu dari pembentukan sosial (social shaping) adalah suatu kecenderungan untuk mengambil sebuah pandangan yang sangat umum tentang teknologi sebagai suatu hal atau proses tunggal. Sehingga problemnya adalah berfikir sebagai analisis dari teknologi secara umum atau spesies yang sangat umum dari teknologi seperti teknologi baru media atau teknologi komunikasi dan informasi, yang disingkat menjadi ICT (Information-Communication Technology) sehingga mereka dapat lebih mudah dipikirkan, ditulis dan dibicarakan seolah-olah mereka adalah fenomena tunggal. Hal ini lalu seringkali terkait dengan pandangan yang sangat umum tentang tingkatan sosial di mana pembentukan mengambil tempat seperti itu, sebagai contoh, apakah kapitalisme atau Barat yang terlihat sebagai pembentuk.

Kita perlu memikirkan secara bertentangan untuk mendekonstruksi ide tentang teknologi. pertama kita perlu membedakan, seperti Winston (1998) melakukannya dengan berguna, antara sains yang mendasari dan aktualisasinya di dalam artefak-artefak (benda budaya) dan proses-prosesnya, dan kemudian antara berbagai cara di mana potensi saintifik diwujudkan dalam prototype-prototype (bentuk asli/dasar) yang mungkin digunakan, dari apa yang Winston sebut penemuan, yang potensialitasnya secara aktual diambil dan disebarkan secara sosial. Pembedaan ini mempunyai dua nilai. Pertama mereka membiarkan kita untuk memisahkan pertanyaan kebenaran ilmiah, gengsi dan legitimasi yang melekat pada sains, dari sebuah judgement nilai-nilai dan pengaruh eksploitasi teknologis sains tersebut. Hal ini penting, bagaimanapun juga, untuk menekankan bahwa hal ini tidak mengijinkan kita untuk tidak mempedulikan sains yang mendasarinya. Hal ini, dalam pandangan saya, adalah sebuah kelemahan dari pendekatan pembentukan sosial terhadap teknologi, sebuah kelemahan yang lazim dalam kebanyakan pemikiran alternatif tentang teknologi dan pengaruhnya, di dalam sains sosial pada umumnya, dan di dalam kajian media pada khususnya. Tidak ada keraguan yang diakibatkan tidak sekedar oleh kelemahan latar belakang ilmiah di antara para praktisi, tapi lebih umum kepada sebuah bias anti-upaya ilmiah dan bias anti-teknologi di dalam bidang yang berakar dari sikap yang secara mendalam tertanam di dalam pemikiran paska-Pencerahan (post-Enlightenment) tentang seni dan budaya sebagai sesuatu yang bertentangan nilai dengan sains. Hasilnya adalah yang melihat teknologi sebagai secara total dapat ditundukkan dan maka tidak mengambil serius rintangan yang ditempatkan oleh alam pada tindakan manusia. Mengambil beberapa contoh: Apa yang anda dapat lakukan dengan spektrum radio adalah dalam bagian yang ditentukan (determined) oleh hukum fisika dan karakteristik perambatan dari gelombang radio. Suatu diskusi yang serius tentang kemungkinan sosial dan konsekuensi dari proses perkembangan teknologi berbasis radio perlu ditempatkan di dalam ilmu pengetahuan sepenuhnya tentang apa yang merintangi tempat tersebut dan perkembangan masa depannya. Hal ini tentu saja dapat menjadi sebuah bahan perdebatan yang murni bersifat ilmiah dan engineering. Sementara manfaat aktual adalah ditentukan oleh sebuah konfigurasi khusus kekuasaan politik dan ekonomi, rentang kemungkinannya dan penjualan yang dibuat di anatara mereka, sebagai contoh antara telepon mobil dan broadcasting, adalah tidak terbatas. Sama halnya dengan pemikiran tentang cyberspace. Suatu kegagalan mengambil rintangan teknologi secara serius membawa kepada sebuah bentuk pemikiran idealis di mana cyberspace sebagai kebebasan terbang dari keterbatasan yang ditempatkan pada manfaatnya oleh karakteristik rekayasa (engineering) dari jaringan telekomunikasi dan protokol perangkat lunak (software) yang padanya internet dijalankan. Dan tentang rintangan ekonomi material yang nyata menutupi (memblokade) konfigurasi alternatif dan pola-pola penggunaan. Singkatnya bahaya pendekatan ini terhadap teknologi adalah hal ini membawa kepada sebuah anti-perwujudan idealis yang kemudian mudah berbalik menjadi sebuah paranoid distopian, seperti pandangan utopian (khayalan) tentang pengaruhnya. Setiap pelajar yang serius tentang media, pengaruh masa depan mereka dan perkembangan kebutuhan, oleh karena itu, untuk mengambil secara serius biaya manfaat, pemikiran tujuan akhir dari para insinyur. Sungguh visi yang spesifik dari manfaat teknologis dan perkembangan yang dipikirkan insinyur dapat setiap waktu disukai dan perambatannya hanya dapat dikriktik jika pada awalnya hal itu dipahami.

Konvergensi Media

Januari 4, 2009

Para ilmuwan komunikasi politik baru sedang giat-giatnya mulai mempelajari dampak teknologi komunikasi dan informasi pada komunikasi politik. Fenomena ini dianggap signifikan. Chaffe malah mengatakan bahwa arah komunikasi politik mendatang mungkin lebih ke soal politik daripada komunikasi, seperti siapa yang menguasai teknologi mana, dan bagaimana peraturan perundangan mampu menjamin terjadinya pemerataan akses dan kedudukan yang sama di depan teknologi tersebut(Chaffe:2001;44).
Masing-masing media apa pun, baik yang berteknologi rendah (lama) atau berteknologi tinggi (relative baru) memiliki responsibility dan accountability masing-masing yang harus dieksplor dan dibicarakan dengan seksama; terutama karena terdapatnya pula fenomena seperti digital divide (melebaranya jurang antara mereka yang memiliki akses dan control kepada teknologi baru seperti teknologi digital disbanding mereka yang tidak memiliki akses dan control tersebut, dalam hal penguasaan informasi (Bardoel & d’Haenens:2004;5-25).
Komunikasi Politik tidak berdiri sendiri atau tergantung pada sebuah teknologi komunikasi baru. Ia berdiri bersama-sama dengan berbagai media lain dan pada berbagai level, mulai dari level terendah keluarga dan komunitas. Dalam berbagai kasus (bahkan di negara yang teknologi komunikasinya relatif maju), komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi dengan gaya tradisional, dan lebih mengandalkan tatap muka, terbukti mampu menghasilkan akibat atau pengaruh yang lebih jitu pada komunikasi politik dibanding menggunakan teknologi komunikasi atau informasi baru. Jadi sangat tergantung pada konteks suau negara pada masa tertentu, bahkan pada bagian daerah atau komunitas tertentu (Ghazali:2004).
Ihwal yang jelas, perkembangan teknologi memungkinkan media massa melakukan konvergensi. Konvergensi media adalah kerja bersama dimana ‘media tradisional’ – cetak, radio, televise, film – dikombinasikan dengan ‘teknologi baru’, yaitu televisi kabel, internet, dan database. Picu konvergensi adalah kemajuan teknologi komunikasi. Melalui konvergensi, kedalaman dari suratkabar, drama televisi, dan kekuatan (data) dari internet, menjadi satu. Dalam hal ini, masing-masing medium tetap memproduksi isi (berita) dengan bentuk dan gaya mereka masing-masing. Namun, kerja bersama mereka itu kemudian dikumpulkan, disesuaikan, dan ditampilkan melalui teknologi komunikasi yang paling baru. Melalui konvergensi, industri media menjadi industri komunikasi, dimana tekanannya adalah bahwa “informasi itu milik masyarakatâ€
. Dengan sendirinya, konvergensi tersebut juga ikut mengubah seluruh hakekat, corak, dan cara penyampaian berita secara menyeluruh.
Peter M. Sollman dari Advance Interactive Media Group mengatakan, lembaga berita kini harus siap untuk memberi informasi melalui berbagai macam medium. “anda harus mampu melayani audience dengan isi dan informasi yang mereka inginkan melalui segala bentuk medium yang mereka inginkan pula, baik itu bentuk tercetak, audio, video, atau apapun. Audience dapat mengakses infromasi apa saja yang mereka inginkan, kapan dan dimana saja mereka kehendaki, serta dengan cara apa saja yang mereka miliki. Deadline ada adalah ketika anda menempatkan berita itu apda sebuah medium yang bisa diakses audience.â€
 Inti dan dampak konvergensi adalah perluasan platform dan sekaligus perubahan misi media, yaitu “to produce content once and publish often”. Dalam kaitan ini Pedro L. Ramirez, CEO dan penerbit El Mundo di Spanyol, mengungkapkan bahwa “Our mission is not to print news content. It is to distribute content in all platforms”.
Namun demikian, bagi Jean Boudrillard, perkembangan teknologi juga menimbulkan apa yang disebutnya sebagai hyperrealitas media, yaitu penciptaan realitas-realitas artifisial di dalam media, yang menciptakan realitas (kebenaran, fakta) tandingan. Hyperralitas media menciptakan suatu kondisi sedemikian rupa, sehingga didalamnya kesemuan dianggap lebih nyata daripada kenyataan; kepalsuan dianggap lebih benar dibandingkan kebenaran; isu lebih dipercaya ketimbang informasi; rumor dianggap lebih benar dibanding kebenaran (Bennet:1982;289). Kondisi ini dalam pandangan Boudrillard adalah sebuah simulakrum (simulacrum). Dalam konteks media, simulakrum tampil seperti realitas yang sesungguhnya, padahal ia adalah realitas artifisial, yang diciptakan melalui teknologi simulasi.
Hiperealitas media mewarnai dengan sangat pekat kehidupan komunikasi politik di era Orde Baru, dan tampaknya juga masih terjadi di era Reformasi sekarang ini. Komunikasi politik Orde Baru disarati oleh mesin-mesin simulakrum media yang merupakan bagian integral dari mesin kekuasaan. Simulakrum itu nampak misalnya pada simulacrum kebrutalan massa, konflik atar ras, konflik antar agama, konflik antar partai, dan lain sebagainya.
Politisasi dan hiperealitas media yang membentuk ssstem komunikasi politik di dalam sebuah masyarakat telah menciptakan berbagai problematika. Beberapa persoalan yang merupakan konsekwensi perkembangan itu antara lain adalah, pertama, Disinformasi. Simulakrum informasi yang berlangsung terus-menerus, pada satu titik akan menimbulkan kondisi ketidakpercayaan pada informasi itu sendiri, bahkan pada setiap informasi. Informasi kehilangan kredibilitas karena dianggap tidak lagi merepresentasikan realitas. Angka-angka statistik, nilai tukar, inflasi, skandal, polling media misalnya, sebagai informasi cenderung kehilangan kredibilitas, disebabkan sebagian besar hanya dianggap tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya.
Kedua, Depolitisasi. Hiperealitas media menciptakan model komunikasi (satu arah), yang didalamnya terbentuk massa sebagai mayoritas yang diam (the silent majority), yaitu massa yang tidak mempunyai daya resistensi dan daya kritis terhadap tanda-tanda (teks, symbol, gambar) yang dikomunikasikan kepada mereka. Akibat susulannya, wacana politik berkembang kea rah politik citra (politics of image). Kemenangan duet SBY-JK, atau siapa pun yang memenangkan pemilu presiden 2004 lalu misalnya, dalam konteks transisi politik di Indonesia adalah pemenang kontes citra atau popularitas; belum kompetisi pemaparan program (prospective policies) sebagaimana yang sejatinya dituntut komunikasi politik. Berbagai penampilan SBY melantunkan lagu Zamrud Pelangi di Matamu adalah salah satu kenangan riil kita akan nuansa tersebut. Opini publik, saat itu dibentuk oleh realitas yang disuguhkan oleh media. Akan tetapi masyarakat yang terperangkap oleh simulacrum politik menyerapâ€
realitas-realitas” itu secara tidak kritis dan logis sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa mereka sesungguhnya telah terdistorsi oleh politik informasi (Boudrillard:1983;10).
Ketiga, Banalitas Informasi. Berbagai informasi yang disajikan tanpa interupsi oleh berbagai media kontemporer—apakah video, televise, radiio, atau internet—adalah informasi yang banal. Tengok saja, betapa getolnya media menyajikan berita, diskusi, dialog, juga “infotainmentâ€
. Ironisnya, apa yang kini dikejar orang dari media sebagian besar bukan lagi mencari makna tersebut, melainkan ekstasi (kesenangan) menonton media itu sendiri. Di dalam dunia banalitas informasi, apapun bisa diubah menjadi informasi, menjadi tontonan, menjadi berita, atau menjadi data. Namun, betapapun banalnya sesuatu, ia tetap menjadi subyek informasi (Boudrillard:1995;28). Massa yang dikepung oleh berjuta tanda dan citra, tidak mampu lagi menginternalisasikan dan menyublimasikan makna yang dihasilkannya.
Keempat, Fatalitas Informasi. Informasi yang membiak tanpa henti dan tanpa kendali dalam media telah menciptakan kondisi fatalitas informasi yaitu kecenderungan pembiakkan informasi ke arah titik ekstrim, yaitu ke arah yang melampaui nilai guna, fungsi, dan maknanya, yang menggiring kea rah benaca berupa kehancuran komunikasi (bermakna) itu sendiri. Dalam kondisi fatalaitas itu, informasi kehilangan logikanya sendiri dan cenderung diproduksi secara superlative atau dalam wujud yang berlebihan yang nyaris tanpa nilai guna, tujuan, dan makna. Kehamilan Ayu Azhari misalnya, adalah informasi. Tetapi, apa nilai guna, fungsi dan makna informasi itu bagi peningkatan kualitas manusia ketika ia dilaporkan atau didialogkan. Mungkin tidak lebih hanya akan menjadi obyek gosip antar tetangga.
Kelima, Hipermoralitas. Salah satu konsekwensi dari wacana kecepatan dan keharusan informasi adalah kecenderungan dekonstruksi terhadap kode-kode sosial, moral, atau kultural. Hiperealitas media adalah ajang pembongkaran berbagai batas (social, cultural, seksual) sedemikian rupa, sehingga menciptakan semacam kekaburan batas dan ketidakpastian kategori. Apa yang kemudian terbentuk adalah ketelanjangan (transparency) komunikasi dan informasi, yaitu sebuah wacana komunikasi yag didalamnya tidak ada lagi rahasia, semuanya serba terungkap, serba diekspos (Boudrillard:1990;163). Didalamnya tipis sekali perbedaan antara baik/buruk, benar/salah, boleh/tidak boleh, berguna/tidak berguna untuk dikomunikasikan di dalam media.
jika akibat kemajuan teknologi memunculkan sosok media yang hypereality, maka dalam wacana komunikasi politik, kemajuan teknologi memunculkan perkembangan penting, terutama mulai kecenderungan untuk menjadi media genetic di kalangan para pelaku politik (mulai level masyarakat, LSM, partai politik, atau pemerintah). Media genetic di sini dalam pengertian mengenal dan mampu memanfaatkan media massa yang telah ada dan kemampuan menggnakan media komunikasi yang baru. Hampir semua level itu bertarung memperjuangkan kepentingannya melalui berbagai media. Menghadirkan atau melibatkan media massa yang telah konvergen, bagaimanapun, tetap konvensional, atau klasik, tetap perlu dilakukan. Kalangan masyarakat atau LSM misalnya, lazim selalu berusaha menghadirkan media untuk menyuarakan aspirasinya. Luasnya liputan media atas aspirasi itu bahkan sering dianggap sebagai sebuah “keberhasilanâ€
 tersendiri. Paling tidak, apa yang diaspirasikannya, dalam tempo waktu tertentu, dapat menjadi perhatian atau agenda publik. Tetapi jika dicermati, pemanfaatan teknologi dan informasi, saat ini bukan lagi barang yang asing bagi kalangan ini, baik sebagai individu maupun kelompok atau komunitas. Menjamurnya blogger atau yahoogroups misalnya menandai sebuah era baru dimana komunikasi dan interaksi antar individu, antar komunitas, yang sepaham maupun yang tidak sepaham, telah dipandang sebagai sesuatu yang lazim, atau bahkan menjadi kebutuhan. Muatan interaksi komunikasi antar pelakunya bisa sangat beragam, mulai dari yang khusus hingga yang umum, termasuk didalamnya hal-ihwal yang berkaitan dengan politik. Istilah populernya, meminjam salah satu situs, adalah berpolitikdotcom.
Kecenderungan yang sama terjadi juga pada partai politik. Komunikasi politik pada dasarnya merupakan salah fungsi utama yang melekat pada lembaga itu, selain fungsi agregasi, artikulasi, dan rekrutmen politik. Dalam kapasitasnya itu, maka menjadi penting bagi partai politik untuk membuat dan memanfaatkan berbagai media komunikasi untuk menyuarakan kepentingan dan sikap politiknya. Kalangan ini pun kemudian mulai melibatkan dirinya dalam dunia dotcom, entah karena takut disebut gagap teknologi, atau memang karena kesadaran akan pentingnya hal itu untuk menunjang keberadaannya.

Fenomena lain yang cukup mencolok untuk membuktikan betapa kuatnya posisi teknologi dan informasi dalam komunikasi politik juga terlihat pada pemilihan presiden 2004 lalu. Semua kandidat memiliki situs resminya masing-masing. Sebut saja misalnya www.hamzah-haz.com, www.m-amienrais.com, www.amien-siswono.com, www.gusdur.net, www.megahasyim.com, www.mega-hasyim.com (versi lain), www.sby-oke.com, www.wiranto.com . Kecenderungan itu boleh jadi meniru hal yang sama di Amerika Serikat antara George Bush dan John Kerry. Keduanya perang opini lewat jaringan situsnya masing-masing: seperti www.georgewbush.org www.billionairesforbush.com, www.ThousandReasons.org,www.johnkerry.com,www.crushkerry.com, www.vietnamveteransagainstjohnkerry.com, www.nokerry.net. Di Amerika serikat, fenomana itu mungkin telah biasa. Tetapi bagi Indonesia, hal itu dapat dicatat sebagai kecenderungan baru dan penting, tidak saja dalam konteks komunikasi politik, tetapi juga bagi perkembangan teknologi komunikasinya sendiri. Bahkan, salah satu situs dengan sedikit lelucon membuat judul beritanya sebagai berikut: “jangan Ngaku Capres Kalu Nggak Punya Portal” (www.endonesia.com). Keseluruhan situs tersebut tentu saja dibuat dengan sengaja serta dilandasi oleh keyakinan kuat bahwa media itu merupakan sarana komunikasi politik yang jitu dengan masyarakat atau konstituennya.
Selanjutnya, ketika SBY-JK berhasil memenangkan kontestasi politik itu, keyakinan tersebut tetap dipelihara. Secara kelembagaan, hal itu terlihat dengan diaktifkannya kembali Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Sementara kalangan, khususnya para ahli komunikasi dan penyiaran, memandang bahwa departemen ini membawa semangat Departemen Penerangan seperti era Orde Baru. Dalam hal ini kata “telematika” dan “diseminasi informasi” sebagai kunci yang vital. Istilah ini relatif mirip gaya Orde Baru melalui apa yang disebut Dedy N Hidayat sebagai “mekanisme kontrol yang efektif dan menyeluruh”; bukankah “telematika” dimaksudkan meliputi telekomunikasi, media, dan informatika? Pendek kata, alatnya dikuasai, medianya di sana-sini diatur pemerintah, serta ada pula didesiminasi content oleh pemerintah. Jadi dengan begini, akan mudah didengung-dengungkan bahwa rakyat puas terhadap pemerintah seperti dahulu. Konsep “telematika” semacam itu bahkan dipandang memanipulasi istilah telematics yang kalaupun memberikan peran pada pemerintah lebih pada membuat pasar advanced telematics equipment and services menjadi tidak monopolistik, transparan, dan memberi pelayanan tersebar luas serta termurah pada rakyat.
Dengan demikian, maka tidak mengherankan apaila beberapa departemen kini terlihat begitu getol mewartakan atau mengiklankan berbagai program yang menjadi cakupan kerjanya masing-masing, baik melalui televisi, radio, maupun jaringan internet. Lihat saja iklan layanan masyarakat tentang Teorisme yang dirilis oleh Depkominfo, lalu Depmendagri dengan iklan Pilkada, Depdiknas menjadikan BOS sebagai program iklannya, juga tentang Daerah Tertinggal yang diiklankan oleh departemennya, dan lain-lain. Iklan programatik tersebut tentu sah-sah saja, terlepas bahwa beberapa diantaranya acapkali terkesan hanya menyajikan informasi tentang keberhasilannya semata.
Namun demikian, di lain pihak, bagi ilmuwan dan praktisi komunikasi, strategi serta isi pesan jauh lebih penting, sedangkan alat dan teknologi cuma membantu mewujudkannya. Karena itu kita perlu khawatir bahwa kegetolan dan aspek bisnis teknologi komunikasi bisa membuat strategi komunikasi publik jadi terbengkalai. Saat ini, pemerintah kabarnya sedang menggagas sebuah institusi bernama Badan Informasi Publik. Nama ini lumayan benar paradigmanya karena ialah yang paling pas mencerminkan konsep “komunikasi publik” atau fungsi pemerintah sebagai fasilitator dalam masyarakat sipil. Mestinya badan ini nanti tidak berada di bawah kementerian manapun. Ia harus menjadi “ruang publik” di mana masyarakat melalui aneka kelompok arisan, wadah komunikasi tradisional, radio komunitas, dan lain-lain terlayani untuk menjadi senceiver (sender sekaligus receiver, atau pengelola informasinya sendiri); kira-kira seperti fasilitasi United States Information Services (USIS) yang dibentuk pemerintah Amerika Serikat.

Klasifikasi Handphone

Januari 4, 2009

1. Low End

Fitur yang sederhana. Harga yag terjangkau

Memori : Internal yang kecil

Kamera : Tidak ada

2. Middle End

Fitur yang mendekati sempurna menurut teknologi yang ada.

Memori : Eksternal

Kamera : Hanya kisaran 1,3 Megapixel, maksimal 2 Megapixel

3. High End

Fitur yang mumpuni, mengikuti perkembangan teknologi

Memori : Internal yang cukup besar hingga 1 Gb, ada opsi untuk eksternal juga

Kamera : Diatas 2 Megapixel, bahkan sampai 5 Megapixel

Oktober 31, 2008

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } H3 { margin-bottom: 0.08in } –>

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } H3 { margin-bottom: 0.08in } –>

Apa itu internet?

  • Internet merupakan jaringan rangkaian komputer [ networking ] dengan rangkaian komputer lain di seluruh dunia. Internet berguna untuk kita berkomunikasi dan bertukar informasi, file, data, suara, gambar dan sebagainya antara individu dan manusia diseluruh dunia.

  • Internet – adalah sebuah sistem komunikasi global yang menghubungkan komputer-komputer dan jaringan-jaringan komputer di seluruh dunia. Setiap komputer dan jaringan terhubung – secara langsung maupun tidak langsung – ke beberapa jalur utama yang disebut internet backbone dan dibedakan satu dengan yang lainnya menggunakan unique name yang biasa disebut dengan alamat IP 32 bit. Contoh: 202.155.4.230 .

  • Dengan ber INTERNET kita dapat memperoleh berbagai informasi apa saja dimana saja dan kapan saja [ no limit, anywhere and anytime ]. Anda tinggal ke search engine Dunia seperti Yahoo dan google. Ketik kalimat yang Anda ingin cari maka akan ditampilkan alamat website yang memberikan informasi tersebut.

  • Komputer dan jaringan dengan berbagai platform yang mempunyai perbedaan dan ciri khas masing-masing (Unix, Linux, Windows, Mac, dll) bertukar informasi dengan sebuah protokol standar yang dikenal dengan nama TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).

  • TCP/IP tersusun atas 4 layer (network access, internet, host-to-host transport, dan application) yang masing-masing memiliki protokolnya sendiri-sendiri.

  • Dengan internet kita dapat …

    • Berkomunikasi koresponden surat-menyurat dengan menggunakan e-mail

    • Memperoleh informasi dengan menerusi World Wide Web(WWW)

    • Memindah file dengan menerusi File Transfer Protocol (FTP)

    • Video streaming yaitu dengan fasilitas ini kita dapat nonton file video, radio online dan sebagainya di komputer

    • Akses dan control komputer jarak jauh (remote login) menerusi Telnet

    • Berkomunikasi online/langsung seperti sms di handphone hanya di sini bedanya kita dapat bercakap langsung dengan beberapa orang sekaligus dengan menggunakan Internet Relay Chat (IRC)

    • Kemudian terdapat chating lain yang baru yang memungkinkan kita chatting dengan langsung dapat melihat gambar orang yang sedang chat juga ( technologi video streaming ) yaitu dapat kita gunakan MSN ( yahoo messenger / hotmail messenger )

    • Kelompok yang menggunakan Newsgroup sebagai wadah pemberitaan

    • Mengadakan forum elektronik, sebuah forum yang dapat di baca umum dan dapat kita komentari

    • Untuk perusahaan dapat dipergunakan untuk central transaction controller, seperti ATM, credit card dan sebagainya langsung connect ke server perusahaan tersebut dengan bantuan jalur internet

    • Dan technology yang terbaru adalah VOIP yaitu dapat bertelepon dengan kemana  saja dengan bantuan jalur internet [ sehingga telepon pun menjadi lebih murah ]

  • Oleh sebab itu internet sangat – sangat berguna di masa sekarang dan yang akan datang. Seperti yang telah di ramalkan oleh Bpk Microsoft kita Mr Bill Gates bahwa suatu saat setiap rumah akan memiliki komputer seminim-minimnya 1 dan akan saling terhubung melalui jaringan internet. Jika Anda tergolong orang yang masih awam mengenai komputer maka Anda harus cepat-cepat belajar karena dunia masa depan adalah dunia informasi. Dengan teknologi internet ini maka informasi apa saja dapat Anda peroleh dalam sekejap mata.

to the Top 2. Sejarah Singkat

  • Sejarah internet bermula ketika beroperasinya jaringan ARPANET pada tahun 1969. Jaringan ARPANET pertama tersebut hanya menghubungkan empat host komputer dan besar bandwitdh-nya hanya 50kbps.

  • Untuk lebih jelas, berikut ini diuraikan timeline perkembangan internet sejak berdirinya sampi dekade 90-an menurut sejarah DUNIA :
    - Tahun 1967 – 1970
    Lawrence G. roberts dari machusetts of Technology (MIT) mempre-sentasikan rencana
    pembangunan ARPANET.
    - Tahun 1968
    proposal ARPANET dibuat untuk memulai proyek tersebut.
    - Tahun 1970
    Host ARPANET mulai menggunakan NPC (Network Control Protocol).
    - Tahun 1971-1988
    Roy Tomlinson dari BNN menciptakan progam E-mail.
    - 1975
    steve walker membuat mailling list.
    - 1979
    Tom Truscott dan Jim Ellis memperkenalkan USENET.
    - 15 maret 1985
    Syimbolic.com tercatat sebagai domain pertama.
    - 1988
    Internet Relay chat (IRC) diciptakan oleh Jarkko Oikrane
    - 1986
    National Science Foundation (NSF) Backbone dibentuk.
    - 1996
    Internet World Expo.
    - 2003
    doc type xhtml, W3C, CSS, RSS, ATOM, blogs.
    - 2006
    &      WEB 2.0 World Expo.

  • Sedangkan sejarah di INDONESIA internet berawal dari :
    1992 – Berawal dari BPPT – UI – LAPAN.
    Terbentuk Paguyuban – teknologi packet radio sebagai basis untuk network regional.
    1994 – Indointernet sebagai ISP komersial pertama.
    1996 – paling tidak 20 ISP komersial & 40 ISP menunggu ijin operasi
    2004 – Telah lebih dari 20 ISP, dan koneksinya telah bertambah banyak [ dial up, Lease line, ADSL, Cable, Handphone / GPRS, WI FI dan sebagainya ]

to the Top 3. Contoh Jaringan Internet

  • sumber ilustrasi dari CBN
    dial up network
    begitu juga dengan komputer lain [ semua harus dikoneksikan melalui suatu alat baik itu melalui MODEM dial up, ADSL, Cable, Radio, Wave , Satelite dan handphone ] Penerima dan pemakai semua terhubung melalui alat-alat seperti diatas. dan harus berlangganan dengan salah satu provider yang menyediakan internet [ ISP / Internet Service Provider ].

to the Top 4. Berbagai Jenis Koneksi internet pada umumnya

  • Dial up = Menghubungkan komputer ke internet melalui sambungan jaringan line telepon. Dengan menggunakan sebuah modem dial-up. Saat online [ connect ] maka telepon tidak dapat digunakan. Perhitungan pulsa telepon berjalan + biaya internet dari provider.  max Kecepatan 56kb.
  • Broadband = Menghubungkan komputer ke internet melalui sambungan jaringan kabel tv, dengan menggunakan modem broadband. Saat online dapat sekaligus nonton tidak berpengaruh. Dan biaya lebih hemat cukup membayar abodemen tv cable + biaya internet provider untuk 24 jam online [ no limit ]. kecepatan mulai dari 64kb – 256kb.
  • ADSL = Menghubungkan komputer ke internet melalui sambungan jaringan line telepon juga. Namun ADSL menggunakan teknologi yang lebih modern.  Saat online jalur telepon tidak terganggu, dapat digunakan dalam kebersamaan. Biaya cukup membayar provider internet dengan sistem perhitungan berdasarkan besarnya kilobyte  yang digunakan, koneksi 24 jam online. Kecepatan mencapai 512kb.
  • HANDPHONE = Menghubungkan komputer ke internet melalui sambungan jaringan handphone. Dapat dihubungkan melalui Bluetooth maupun usb cable data. Saat online jalur telepon juga tidak terganggu. Bisa menggunakan jaringan GSM maupun CDMA. GSM dapat lebih cepat dengan teknologi 3G atau bahkan teknologi terbaru high speed 3,5G. Sedangkan CDMA menggunakan teknologi CDMA 2000 1x hampir setara dengan 3G. Perhitungan biaya hampir sama semua yaitu menggunakan sistem perhitungan per kilobyte. Kecepatan mulai dari 64kb – 2mb.

to the Top 5. Cara koneksi melalui dial-up

  • Anda telah mengerti internet dan ilustrasi jaringannya, kini bagaimana Akses / connect ke internet?? Cara termudah adalah dengan melalui jaringan telepon. dan ISP yang kita gunakan adalah telkom, karena dengan menggunakan telkom Anda tidak perlu register ke ISP lagi. ISP di Indonesia seperti CBN, Centrin, Radnet, linknet, dll…

  • Namun biasanya menggunakan ISP  koneksi internet dapat lebih cepat dan leibh murah. Disini kami akan memberikan contoh langsung akses melalui telkomnet Langkahnya adalah sebagai berikut :

    bullet Telah tersedia modem di komputer Anda, jika belum Anda dapat membelinya. Untuk saat ini sudah cukup murah yaitu berkisar dibawah 100rb-an sudah dapat. Modem Dial-up v9 56kb.
    bullet Jaringan Line telepon dari telkom / bukan ratelindo dan lainnya….
    bullet Kemudian setting di PC Anda adalah di set new connection dan pilih internet with dial up connection Isi dibawah ini [ yang lain tidak perlu di isi selain yang tertulis dibawah ini ]

    • Nomor Akses : 0809 8 9999

    • User Name : telkomnet@instan

    • Password : telkom

  • cukup dengan nomor dial up username dan password, langsung Anda dapat connect ke internet
    • Tarif berkisar  : Rp 165,-/menit (sudah termasuk pulsa telepon+ Internet)
    • Kecepatan max : 56 Kbps (V.90)
  • Apakah jaringan telepon saya sudah bisa akses Telkomnet Instan ?
    Cukup mudah untuk mengetahuinya. Angkat telepon, terus tekan 0809 8 9999 dan tunggu beberapa puluh detik. Jika terdengar bunyi modem (seperti suara faks), maka Anda dapat langsung masuk dunia cyber. Jika belum punya komputer, belilah komputer termasuk modem V.90. Jangan lupa minta toko komputer untuk sekaligus setting Telkomnet Instan. Apabila Anda

  • masih bingung Anda dapat akses Q & A telkom.

Oktober 31, 2008

<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

Teknologi dan Kebudayaan

Written by Affi Astari Purnama

Kenetralan teknologi

Teknologi berkembang hampir di seluruh belahan dunia. Negara – negara di kawasan eropa dan amerika hampir selalu menjadi pioner dalam hal perkembangan teknologi. Berbagai produk teknologi diciptakan dengan maksud memudahkan pekerjaan manusia. Produk produk hasil perkembangan teknologi tersebut diciptakan di sejumlah negara dan dipublikasikan ke pasar dunia. Namun yang terjadi di lapangan tidak sepenuhnya sesuai dengan tujuan awal penciptaan dan pemasaran produk teknologi.

Sebagai contoh adalah produk ’snowmobiles’ yang berkembang di Amerika Utara pada tahun 1960an. Produk ini diciptakan untuk memudahkan warga amerika utara selama musim salju. Ketika ’snowmobiles’ dipasarkan di luar negeri, pemanfaatannya menjadi bergeser. Di Swedia ’snowmobiles’ digunakan untuk mengggembala rusa kutub, dan di Canada, produk ini digunakan untuk para eskimo yang hendak menjebak serigala untuk selanjutnya diambil kulitnya.Dengan demikian dapat disimpulkan sementara bahwa produk teknologi telah diciptakan dan ketika produk tersebut disebar, maka penggunaannya akan bergantung pada kondisi sosial atau kebudayaan warga daerah masing – masing. Hal ini lah yang menjadi argumen atas pertanyaan bahwa apakan teknologi itu netral atau bergantung pada kondisi sosial. Jika dilihat dari sisi konstruksi dasar mesin dan bagaimana cara kerja sebuah produk teknologi, maka teknologi dapat dikatakan netral karena dimanapun penggunaannya sama dan mesin yang dipakai sama. Namun jika dilihat dari sisi aktivitas manusia yang menggunakannya, teknologi tidaklah netral karena tujuan tujuan penggunaan produk teknologi tidaklah sama di setiap daerah. Kata ’teknologi’ memilki arti yang beraneka ragam jika dilihat dari berbagai bidang. Di dunia kedokteran, teknologi berkisar pada pengetahun mengenai bidang kedokteran, dan keahlian dalam menangani pasien. Bahkan ada pula yang menambahkan bahwa teknologi kedokteran juga meliputi teknik dasar kedokteran, aspek budaya, dan organisasi. Teknologi dapat dimaknai sebagai aktivitas manusia dan juga sebagai bagian dari kehidupan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teknologi tidak hanya seputar teknik, mesin, dan pengetahuan, namun  juga seputar organisasi dan nilai nilai budaya.

Latar belakang dan Nilai Nilai masyarakat

Membicarakan teknologi lebih jauh, berarti membicarakan beberapa sikap yang membatasi pandangan seseorang mengenai teknologi. Sistem teknologi meliputi manusia dan mesin. Tingkatan keduanya adalah setara. Namun pada kenyataannya manusia, karena merasa dirinya sebagai ’user’ dari mesin, seringkali memposisikan diri lebih tinggi. Hal tersebut berkaitan dengan budaya yang terjadi di masyarakat. Ketika sebuah mesin produk teknologi mengalami kerusakan, seringkali yang dislahkan adalah mesin itu sendiri. Mesin yang buruk, tidak tahan lama, kurang canggih, dan alasan lainnya. Manusia sering mengesampingkan alasan bahwa mesin itu kurang dirawat oleh manusia. Manusia cenderung terfokus pada aspek teknik dari setiap masalah yang bersifat praktis. Dan mereka lalu mulai berfikir tentang kemampuan luar biasa lainnya yang dapat diciptakan melalui teknologi. Manusia makin mengharapkan teknologi dapat menyelesaikan setiap masalah.Yang perlu disadari, teknologi tidak selamanya dipuja dan dibutuhkan begitu saja oleh masyarakat di seluruh dunia. Teknologi juga harus diiringi dengan perkembangan pendidikan dan pengetahuan. Menjamurnya teknisi teknisi yang ahli juga tidak akan berpengaruh apa apa jika mayoritas penduduknya tidak terpelajar.  Masyarakat tersebut akan menganggap teknologi tak ubahnya seperti alien. Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak dapat netral dan berdiri sendiri. Perkembangan teknologi harus diimbangi dengan perkembangan sosial, pendidikan, dan kebudayaan.

Pengukuran Kemajuan Teknologi

Manusia terbiasa terfokus pada produk teknologi dibandingkan dengan aktivitasnya sehari hari. Karena itulah kemajuan teknologi sering diukur dengan melihat pada berbagai macam produk teknologi yang baru diciptakan, serta jumlahnya yang meningkat. Sebagai contoh, pada awal tahun 1600, penemuan seperti mesin cetak, kompas megnetis menjadi bukti dari kemujuan teknologi. Dan semakin berkembangnya zaman, ditemukan pula mesin uap dan lampu elektrik.Berbagai tipe mesin bermunculan untuk menunjukkan perkembangan yang bertahap dalam jangka waktu yang lama. Kemajuan teknologi dianggap melaju secara konsisten dan diukur melalui grafik.Nicholas Rescher, seorang ahli statistik dan diagram menyatakan bahwa konsistensi dari kemajuan teknologi adalah hal yang lumrah. Namun cara pandang tersebut ternyata memiliki kelemahan yang fatal. Dengan keadaan yang konsisten, kemajuan teknologi menjadi tidak dinamis. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemajuan salah satu dimensi membuat kemunduran dimensi yang lain menjadi dikesampingkan. Contohnya di dunia pertanian. Jumlah produksi pertanian dikaitkan dengan faktor tanah, SDM, dan energi yang berlimpah. Padahal belum tentu untuk mencapai panen yang berlimpah harus memiliki SDM, energi, dan tanah yang banyak. Kemajuan panen tidak hanya berkisar diantara faktor tersebut saja. Apalagi fakta bahwa di Amerika serikat yang memiliki lahan sangat luas tidak menjadikan hasil pertaniannya serta merta meningkat dan berlebih.Tingginya tihasil pertanian juga disebabkan oleh aspek organisasional, hal tersebut juga dilihat dari perbandingan jumlah hewan ternak dan hasil panennya. Kemajuan teknologi di bidang pertanian dapat dilihat dari munculnya pupuk kimia dan traktor. Dengan traktor, para petani tetap dapat membajak sawah walaupun dalam kondisi iklim yang tidak mendukung. Berpindahnya penggunaan mesin uap menjadi penggunaan turbin raksasa juga dijadikan sebagai ukuran kemajuan teknologi.

Penentuan keputusan dan Pergerakan dalam Kemajuan

Saat ini, pola – pola baru mengenai organisasi harus ditemukan sebelum inovasi atau teknik di dalam teknologi bermunculan. Organisasi kerja dianggap lebih penting dibandingkan dengan produk teknologi yang dihasilkan oleh organisasi kerja tersebut.Dibandingkan pernyataan bahwa mesin uap james watt memimpin revolusi industri, mungkin lebih pantas dikatakan bahwa perkembangan organisasi pabrik memberikan kesempatan pada james watt untuk menyempurnakan penemuannya.Kebanyakan penemuan dibuat dengan tujuan sosial tertentu, namun banyak pula yang terpengaruh oleh berbagai hal dan menyebabkan penemuan penamuan tersebut tidak sesuai dengan harapan manusia. Inovasi selanjutnya akan dilihat sebagai hasil dari siklus dari faktor sosial, kultural, dan teknikal.Teknologi bukan sesuatu yang berada di luar konsep sosial. Sosial dan teknologi saling berkaitan satu sama lain. Inovasi bukan hanya hasil dari logika yang rasional. Di dalamnya juga terkandung tujuan dan maksud tertentu. Inovasi juga merefleksikan kesadaran tentang kemungkinan dan kesempatan yang berhubungan dengan maslah ekonomi. Pergerakan inovasi dan kemajuan teknologi, secara khusus, dapat dilihat dari penggunaan manusia sebagai tenaga kerja menjadi penggunaan mesin dan komputer. Selain itu industri yang bersifat agrikultur mulai bergerak menjadi industri yang bersifat otomotif.

Last Updated ( Monday, 10 September 2007 )

Hello world!

September 21, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.